Beranda » Lain-lain » 9 Sifat yang Harus Dimiliki Sales dalam Teknik Penjualan

9 Sifat yang Harus Dimiliki Sales dalam Teknik Penjualan

Sales Motoris Freelance

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian! Saya pernah menjalani pekerjaan jual beli selama kurun waktu 2014 hingga 2017. Dari pengalaman saya tersebut, saya menyimpulkan ada beberapa sifat yang harus dimiliki sales alias tenaga marketing.

Sifat yang Harus Dimiliki Sales

1. Sabar Saat Menghadapi Konsumen yang Bimbang

Pada saat saya menghadapi konsumen yang bimbang dalam memilih produk, saya justru malah suka. Potensi untuk terjadinya transaksi bisa hampir 100%.

Caranya mudah sekali.

Ketika calon pembeli bertanya, “Mending mana?”, maka Om/Sist sebagai penjual hanya perlu mengingat, dari 2 (atau lebih) produk yang menjadi pertimbangan atau perbandingan, tawarkan produk yang punya keuntungan lebih besar.

Jika ternyata produk-produk tersebut memiliki potensi keuntungan yang sama besar, maka tawarkanlah yang mutu produknya paling bagus.

Selanjutnya jika mutu produknya relatif sama, maka tawarkan produk yang kurang laku supaya ia jadi laku terjual.

Intinya jangan pernah mengatakan bahwa produk-produk tersebut “Sama”, karena dengan jawaban itu maka kebimbangan calon konsumen tidak terselesaikan. Sementara itu jika kebimbangannya tidak terselesaikan, maka si calon konsumen berpotensi untuk tidak jadi membeli.

2. Fokus

Dari pengalaman saya selama berprofesi sebagai sales motoris, saya mendapati bahwa fokus fikiran kita harus tertuju pada konsumen. Terutama saat sedang terjadi interaksi.

Ketika Om/Sist berinteraksi dengan konsumen namun fikiran Om/Sist “melayang”, maka nantinya akan muncul sikap apatis atau tidak sopan. Bahkan Om/Sist bisa sampai tidak mendengar ketika calon konsumen sedang berbicara. Yang akhirnya bisa membuat konsumen merasa tidak mendapat perhatian sehingga batal membeli.

3. Berbicara Efektif

Hindari pengulangan kata pada saat berbicara dengan calon konsumen.

Kindari juga penggunaan kata “tapi atau namun”.

Penggunaan kata “tapi / namun” adalah tanda keraguan yang secara tidak langsung mengandung arti “tidak”. Misalnya pada saat konsumen mengajukan keluhan, kemudian Om/Sist menjawab, “Iya, Bapak benar. Tapi…”.

4. Menjadi Pendengar yang Baik saat Ada Keluhan

Poin ini masih ada hubungannya dengan fokus. Singkatnya untuk menjadi pendengar yang baik, Om/Sist harus bisa memfokuskan fikiran pada konsumen.

5. Tidak Tergesa-gesa

Sikap tergesa-gesa akan membuat Om/Sist gagal fokus dan tidak menjadi pendengar yang baik. Yang akhirnya bisa berakibat pada gagal transaksi.

6. Tidak Sok Akrab

Seorang salesman atau tenaga marketing memang harus pandai mengambil hati calon konsumen dengan cara bersikap ramah dan akrab.

Tapi bukan berarti boleh sok akrab.

Misalnya Om/Sist menyapa calon konsumen dengan kalimat, “Assalamu’alaikum Bu Haji. Apa kabar? Barang “anunya” kosong tuh. Mau nambah berapa karton?”.

Ketika Om/Sist memang sudah akrab dengan konsumen tersebut, tentu kalimat seperti itu akan menambah keakraban. Tapi jika Om/Sist baru pertama kali, kedua kali atau ketiga kali berkunjung, jangan langsung bersikap seperti itu. Perkenalkan diri Om/Sist terlebih dahulu dan perkenalkan produk-produk yang Om/Sist tawarkan. Jangan langsung ingin mencetak transaksi kecuali jika konsumennya sendiri yang menginginkan.

Sebagian orang memang kadang merasa senang saat kita panggil “Haji”. Bahkan meskipun ia bukan seorang Haji.

Tapi faktanya tidak semua orang merasa senang saat kita panggil seperti itu.

Bagaimana jika ketika Om/Sist mengajak ngobrol seperti tadi, terus si ibu malah menjawab, “Heh! Kapan gue ke Mekah? Terus itu enak aja lu bilang “Anu” gue kosong?! Lu ngga tau “Anu” gue padat berisi? Mau bukti? Lu mau lihat “Anu” gue?”

Wkwkwkwk! Nah loh! Mampus lu! Apa ngga ngiler tuh mendapat tawaran melihat barang konsumen? Wkwkwkwk!

Ingat Om! Kunjungan pertama dan kedua cukup untuk perkenalan saja. Jika terjadi transaksi ya sukur, tapi kalau tidak pun jangan memaksakan.

Fahami dulu karakter calon konsumen, baru nanti pada kunjungan ke-3 dan seterusnya mulai mengarah pada penjualan.

7.Tidak Mencari Kambing Hitam

Ketika ada keluhan dari konsumen, Om/Sist jangan mencari kambing hitam.

Kenapa?

Karena barangkali di situ hanya ada kambing guling?

Wkwkwkwk! Bukan begitu maksudnya.

Begini Om. Saat ada keluhan dari konsumen, jangan cuci tangan dan melimpahkan kesalahan pada orang lain atau pihak lain. Hadapi dan dengarkan keluhan konsumen, kemudian cari solusinya.

Ingat! Om/Sist sebagai tenaga marketing jangan pernah membawa masalah dari kantor ke lapangan dan sebaliknya, jangan bawa masalah dari lapangan ke kantor. Kecuali jika masalahnya memang terlalu besar dan sangat tidak bisa untuk Om/Sist tanggulangi sendiri.

Jangan jadi sales yang cengeng! Karena mental cengeng hanya akan membuat Om/Sist tidak bisa maju.

8. Tidak Menilai Hanya dari Penampilan Luar Saja

Jangan pernah meremehkan orang yang berpenampilan biasa saja. Belum tentu orang yang berpakain rapi punya uang lebih banyak.

Bisa jadi pengemis dan pengamen yang lusuh, justru penghasilannya lebih besar daripada seorang PNS.

Tapi bukan berarti Om/Sist harus lebih memilih pengemis dan pengamen lo ya. Banyak juga pengemis dan pengamen yang kurang sukses.

Wkwkwkwk! Memangnya ada ya pengemis sukses?

Intinya sih, perlakukan semua calon konsumen dengan sikap yang sama. Karena kita belum tahu siapa yang benar-benar potensial.

9. Tidak Terlalu Banyak Bicara

Seorang tenaga penjual memang harus pandai berbicara. Tapi jangan “over” juga.

Fahami dahulu sejauh mana pengetahuan calon konsumen terhadap produk yang Om/Sist tawarkan. Jangan sampai Om/Sist menjelaskan hal-hal yang sudah ia ketahui.

Calon konsumen justru akan sebal jika Om/Sist terlalu “cerewet”.

So, pastikan Om/Sist hanya menjelaskan hal yang memang belum ia ketahui. (Bloglain – Sifat yang harus dimiliki Sales).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *