Sales Motoris Freelance

11 Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal

Bloglain.com – Om Bro! Dulu saya ingin sekali kerja kantoran. Alhamdulillah, keinginan saya tercapai, meski hanya 2,5 tahun lamanya. Kemudian pekerjaan lapangan yang saya jalani. Nah, dari salah satu pengalaman itulah, sekarang saya share pada Om Bro sekalian beberapa tips menjadi sales motoris yang handal.

Motoris.

Nama profesi itu dulunya “menyeramkan” buat saya. Tidak ada dalam daftar pilihan saya.

Tapi kemudian saya menikmatinya.

Enak Om. Bebas. Boss tidak terlalu memantau. Lebih fleksibel.

Atas dasar itulah saya katakan pada Om Bro sekalian: Jika (entah karena terpaksa ataupun tidak) Om Bro harus menjalani pekerjaan sebagai sales motoris kanvas, Om Bro tidak usah berkecil hati. Karena ada banyak pisan ilmu yang dapat kita ambil dari pekerjaan ini.

Ada banyak sekali kelebihan pekerja lapangan dibanding karyawan kantoran.

Definisi Motoris

Sales Motoris

Sebelum kita masuk ke bahasan tips menjadi sales motoris yang handal, terlebih dahulu kita bahas tentang definisi sales motoris.

Dalam tatanan dunia persilatan distribusi, level paling bawah adalah motoris dan SPG / SPB.

Tapi Om Bro jangan berkecil hati. Kata orang bijak, “Orang sukses adalah orang yang memulai segalanya dari nol”.

Sales spreading atau task force adalah nama lain dari motoris.

Sales motoris adalah salesman atau salesgirl yang berada di level paling bawah, berdasarkan ukuran outlet yang dicovernya.

Yup. Tugas seorang motoris ialah meng’cover warung-warung retail.

Tugas Motoris

Sekarang kita masuk pada bahasan tips menjadi sales motoris yang handal.

Selain hanya harus meng’cover warung-warung retail, motoris juga memiliki tugas yang sangat besar, yaitu:

1. Memperkenalkan Produk-produk Baru

Toko grosir pada umumnya hanya menjual produk sesuai permintaan pelanggannya saja. Jarang sekali ada toko grosir yang bersedia menawarkan produk baru.

Lalu apa hubungannya dengan motoris?

Motoris bertugas memperkenalkan (menjual) produk baru ke warung-warung kecil. Dari situlah nantinya akan timbul daya tarik ke toko grosir.

Saya contohkan dengan skema begini:

  • Motoris menjual produk baru ke warung-warung retail
  • Konsumen membeli produk tersebut ke warung
  • Produk terjual habis
  • Motoris belum datang kembali ke warung tersebut
  • Warung berbelanja ke toko grosir, menanyakan produk baru tersebut
  • Toko grosir menanyakan produk tersebut ke salesman TO
  • Toko grosir memesan produk tersebut ke salesman TO

Kira-kira begitu skemanya.

Sebenarnya sih ada SPG / SPB. Tugasnya menjual langsung ke konsumen. Tapi saya tidak ada pengalaman sebagai SPB. Jadi tidak saya bahas.

Penolakan Pemilik Warung

Nah. Penolakan dari pemilik warung akan menjadi tantangan terberat bagi Om Bro sebagai motoris.

Kenapa?

Karena pemilik warung belum mengenal produk baru yang Om Bro tawarkan.

Jangan menyerah. Penolakan itu merupakan ujian bagi Om Bro. Om Bro harus bisa “merayu” pemilik warung supaya mau membeli barang milik Om Bro.

Wkwkwkwk. Maksudnya produk. Bukan barang pribadi yang hanya satu-satunya itu.

Nah. Saat pemilik warung menolak, Om Bro jangan sampai patah semangat. Karena pengalaman Om Bro dalam menjual produk baru, akan sangat berguna ketika nanti Om Bro naik menjadi salesman kanvas atau TO.

Betul Om. Sales kanvas dan TO itu tugasnya menjual produk yang sudah populer. Jadi logikanya: jika Om Bro mampu menjual produk baru, pasti nanti Om Bro akan mudah menjual produk yang sudah populer.

Bahkan jika nantinya Om Bro memutuskan untuk membuka usaha sendiri, ilmu dari profesi motoris akan sangat bermanfaat.

2. Meng’cover Wilayah yang Tidak Tercover oleh Salesman TO (taking order)

Ini menjadi tugas motoris yang kedua.

Yup. Pada medan berat, kinerja salesman TO tidak akan bisa maksimal.

Sebetulnya bukan salesmannya yang kesulitan.

Kesulitannya ada pada mobil pengiriman (ekspedisi).

Nah. Wilayah seperti itu membutuhkan peranan motoris.

Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal

Lanjut. Masih perkara tips menjadi sales motoris yang handal.

Sekarang kita masuk ke sesi tips menjadi sales motoris yang handal.

1. Tentukan Rute yang Tepat

Supaya sukses jadi sales motoris, Om Bro harus tepat dalam memilih rute penjualan.

Bagi motoris freelance, menentukan rute yang bagus adalah wajib hukumnya. Sementara bagi motoris perusahaan, ada dua kondisi yang menjadi patokannya.

Kondisi pertama. Biasanya perusahaan sudah menentukan area kanvas motoris. Tapi ada kondisi kedua, yaitu pengembangan wilayah.

Berikut ini rute-rute terbaik bagi motoris:

Gang-gang sempit dan jalanan rusak

Seperti tadi. Salesman canvas mobil dan TO tidak bisa mengcover area dengan jalanan sempit atau rusak. Maka motoris yang harus mengcovernya.

Wilayah pegunungan atau wilayah yang jauh dari pasar dan toko grosir

Pada wilayah seperti itu, pemilik warung selalu menantikan kehadiran motoris.

Mengapa demikian?

Karena sulitnya akses dan mahalnya ongkos jika mereka harus ke pasar atau toko grosir terdekat.

2. Cover Hanya Outlet-outlet Kecil Saja

Kenapa hanya outlet kecil saja?

Karena pada umumnya, perusahaan menetapkan harga jual produk motoris lebih mahal dari harga jual salesman TO.

Itu sangat wajar.

Tujuan dari perusahaan mengadakan armada motoris adalah untuk distribusi produk-produk baru. Jadi, pengenalan harganya pun dengan harga semi-retail.

Jika Om Bro “maksa” untuk menawarkan barang ke outlet besar (misalnya semi-grosir), maka Om Bro harus menjualnya dengan harga sales TO, yang artinya Om Bro bakal “nombok setoran” pada saat menyerahkan laporan penjualan ke kantor nanti.

Ini yang didaerah saya biasa disebut dengan istilah buang barang.

Efek lain selain nombok adalah terbentuknya mental yang buruk.

Salah satu teman kerja saya, dulu, ada yang sering melakukan hal itu.

Hasilnya?

Bagus pada laporan. Selanjutnya dia diangkat jadi sales TO.

Tapi apa yang terjadi kemudian?

Perusahaan memberhentikan dia. Ketahuan prestasi dia yang sebenarnya.

Kembali ke perkara outlet.

Meskipun tugas motoris ialah untuk meng’cover outlet-outlet kecil, tapi dalam kondisi tertentu seorang motoris juga bisa masuk ke semi-grosir. Dengan catatan jika toko tersebut belum tercover oleh salesman kanvas atau pun sales TO, dan jika lokasi toko tersebut jauh dari pasar dan toko grosir besar.

3. Aktif Menawarkan Produk, tapi Sopan dan Tidak Memaksa

Bayangkan jika pemilik warung itu janda bahenol. Terus Om Bro paksa. Teriaklah dia. Maka orang sekampung ngeroyok Om Bro.

Wkwkwkwk. Bukan maksa yang seperti itu Om.

Saya pernah jadi canvaser roda-4. Saat itu supervisor saya selalu mengajarkan untuk mem’presure pemilik warung. Intinya: bagaimana caranya supaya warung yang tidak berminat jadi mau untuk membeli produk kita.

Sekilas sepertinya hebat ya? Wah, mantap deh kelihatannya.

Tapi apa yang terjadi?

Pada kunjungan berikutnya, beberapa pemilik warung bertanya pada saya, “Siapa sih orang yang datang sama kamu minggu lalu? Najis ih! Maksa!”

Nah. Ternyata begitu.

Ya wajar Om. Terpaksa itu ngga enak.

Cara sales-force seperti itu menurut saya hanya cocok untuk produk dengan durabilitas lama, misale sales motor, mobil, rumah, pakaian, barang elektronik, dan lain-lain. Sama sekali tidak cocok untuk produk-produk konsumsi.

Terbukti! Beberapa outlet langganan saya mengaku kalau mereka lebih suka dengan kesopanan saya.

Mereka suka karena saya tidak pernah memaksa.

Bahkan ada seorang Ibu Hajah pemilik warung yang menolak salesman lain karena menawarkan produk yang sama dengan produk saya. Katanya: “Saya butuh produk dia kemarin, tapi saya nggak beli. Saya ingat kamu akan datang hari ini. Kasihan kalau kamu datang, trus saya nggak beli produk kamu.”

Tuh kan. Saya terharu.

Tapi Ibu Hajah’nya udah tua dan gemuk. Coba kalau masih muda dan cantik. Wkwkwkwk.

4. Tepat Memilih Hari dan Konsisten pada Hari Kunjungan

Memilih hari kunjungan harus Om Bro lakukan dengan tepat pada awal Om Bro masuk ke rute tersebut.

Contohnya begini:

Om Bro sudah menentukan rute A untuk hari Senin. Tapi ternyata hari Senin rute A padat salesman dari produk lain. Apalagi kalau padatnya oleh sales rokok, praktis Om Bro harus mengalah dan ganti hari kunjungan.

Kalau Om Bro tetap memaksakan hari itu ke rute A, akibatnya buruk.

Contoh yang saya pernah alami pada saat bentrok dengan sales-sales rokok, pemilik, warungnya bilang begini, “Yaah, sekarang mah libur dulu, Pak. Duitnya udah habis buat belanja rokok tadi”.

Saya nggak nyerah gitu aja dong. Saya bilang, “Itu kan rokok Bu. Beda produk sama saya”.

Tapi pemilik warung jawab lagi, “Iya produknya beda, tapi uangnya kan sama, Pak!”

Wkwkwkwk. Iya juga sih.

Kali uang Rp100 ribuan khusus buat belanja rokok, yang Rp50 ribuan khusus buat belanja produk makanan? Kan ngga gitu Om.

Setelah Om Bro menentukan hari yang tepat, biasanya kendala motoris adalah cuaca buruk.

Misalnya:

Hari senin seharusnya rute saya ke wilayah A yang jaraknya jauh. Tapi karena hari itu turun hujan seharian, akhirnya saya alihkan ke rute B yang lebih dekat jaraknya.

Selanjutnya saya mendatangi rute A pada hari Selasa.

Akibatnya?

Pada hari Selasa saat saya ke rute A, sebagian pemilik warung ada yang bilang, “Yah. Kemarin saya tungguin nggak datang. Sekarang nggak ada duit, udah saya pakai belanja produk lain.”

Nah, karena itulah Om Bro harus memilih hari yang tepat dan konsisten pada hari kunjungan tersebut.

5. Berangkat Lebih Awal

Jikapun hari kunjungan sudah tidak bisa diganti lagi, berangkat lebih awal.

Dulu supervisor saya sering bilang, “Sales berangkat kepagian juga nggak bagus. Warung-warungnya belum pada dapat duit, jadi nggak akan pada belanja kalau masih pagi.”

Kadang benar. Tapi persentasenya sangat kecil. Saya sudah buktikan! Dengan berangkat lebih pagi, justru omset saya jadi lebih baik.

Kebanyakan salesman yang saya kenal, rata-rata mereka berangkat dari kantor jam 10-an.

Saya juga dulu iya. Tapi setelah saya jadi freelance, saya selalu berangkat jam 8’an pagi. Jadi saat saya masuk ke warung, mereka masih punya cukup uang lantaran sales lain belum ada yang datang.

Begetoh yang benar Om.

6. Mengajak Bercanda Pemilik Warung

Bercanda juga tetap ada batasan-batasannya. Tidak semua pemilik warung suka bercanda.

Tapi untuk pemilik warung yang suka bercanda, tentu candaan Om Bro akan menambah keakraban. Misalnya, saat datang, “Assalaamu’alaikum. Apa kabar Bu Haji? Ada saya lagi nih datang. Bu Haji kangen nggak sama saya?”

Pasti jawabannya, “Nggak!”

Wkwkwkwk. Sumpah! Tiap kali saya bilang gitu ke warung, belum pernah ada satupun yang menjawab “Iya.”

Contoh dialog yang pernah saya alami:

  • Saya: “Bu Haji mau nonton?”
  • Bu Haji: “Nonton apaan?”
  • Saya: “Nih, nonton barang-barang dagangan saya”
  • Bu Haji: “Boleh. Kalau nonton doang berarti gratis dong?”
  • Saya: “Ya nggak lah Bu Haji. Kalau nonton ya beli tiket”

Trus kalau pemilik warung ternyata cuma belanja sedikit, atau malah nggak belanja, Om Bro ajak bercanda lagi:

“Kok cuma sedikit Bu? Nggak nyesel? Nanti nyesel loh. Mana rumah saya jauh. Gimana kalau nanti Bu Haji pengen barang saya?”

Paling juga Bu Hajah jawab, “Ah, ngga bakalan pengen! Barang kamu kecil pendek, buntet juga”.

Wkwkwkwk. Bukan barang yang itu Bu.

Tapi beneran Om. Candaan-candaan saya seperti itu sering membuahkan hasil baik. Warung yang tadinya menolak, akhirnya membeli. Warung yang tadinya beli sedikit, akhirnya nambah.

Iya Meskipun tidak selalu berhasil begitu.

Ada kalanya warung tetap tidak mau membeli atau hanya membeli sedikit. Tapi setidaknya kita sudah berikhtiar dengan cara yang baik.

7. Perbanyak Kunjungan

Kunjungi minimal 25 outlet, lebih bagus 30 outlet perhari. Jangan pulang sebelum tercapai 30 kunjungan.

Ingat! Aktif menawarkan tapi tidak memaksa.

Cari warung sebanyak-banyaknya. Cara itu lebih baik daripada memaksa.

Dengan lebih banyak kunjungan, maka lebih besar potensi omset yang kita dapat.

Semakin banyak kunjungan, maka semakin banyak pula outlet yang kita kenal. Dan itu adalah aset penting bagi kita.

Jika nanti Om Bro pindah kerja atau bahkan membuka usaha sendiri sebagai sales motoris freelance, outlet-outlet itu akan tetap menjadi pelanggan kita. Walaupun produk yang kita tawarkan sudah berbeda.

Bisakah kita mencapai 30 kunjungan perhari?

Bisa banget! Itu angka normal. Bukan bahasa motivator.

8. Jangan Milih-milih Pelanggan

Secara tidak sadar, kadang kita bersikap meremehkan outlet-outlet yang biasanya hanya membeli dalam nominal kecil.

Saat kita melintas di depan warung tersebut, tiba-tiba muncul kalimat dalam benak kita, “Ah malas. Dia mah belanjanya cuma sedikit. Paling juga cuma Rp50 ribu.”

Cuma 50 ribu memang. Tapi kalau ada 10 warung seperti itu? Berarti Rp500 ribu omset terbuang.

Itu satu hari. Dan itu artinya Rp13 juta dalam 1 bulan (dengan asumsi 26 hari kerja).

Itu angka yang lumayan untuk ukuran motoris.

9. Eliminir Outlet yang Benar-benar Tidak Aktif

Ini gimana? Katanya tidak boleh milih-milih pelanggan, tapi kok harus mengeliminir juga outlet lainnya?

Wkwkwkwk. Bingung ya Om?

Begini. Walaupun kita tidak boleh mengabaikan outlet-outlet kecil, tapi kita tetap harus selektif.

Ketika ada outlet yang sebelumnya pernah bertransaksi dengan kita, tapi pada 4 kali kunjungan berikutnya tidak pernah terjadi transaksi sama sekali, itu artinya outlet tersebut tidak aktif.

Jika outlet semacam ini tetap kita pertahankan, maka kita telah buang-buang waktu.

Umpama ada 5 saja outlet seperti itu dalam 1 hari, maka sudah 1 jam + 15 menit waktu kita yang terbuang sia-sia (rata-rata waktu kunjungan saya 15 menit per’outlet).

Ingat! Waktu adalah uang! Jadi kalau ada teman yang Om Bro ajak jalan, kemudian dia menolak dengan alasan, “Nggak ada waktu”, itu artinya dia nggak punya uang. Wkwkwkwkwk.

Solusi untuk outlet yang seperti itu adalah menghapusnya dari daftar kunjungan.

Tapi ingat! Cari outlet pengganti yang lebih baik. Jangan berhenti mencari sebelum Om Bro mendapatkan gantinya. Tujuannya adalah supaya jumlah kunjungan tidak berkurang, dan tujuan akhirnya adalah untuk mempertahankan bahkan meningkatkan omset penjualan.

10. Jalin Hubungan Baik dengan Salesman Produk Lain

Bukan menjalin hubungan cinta loh ya. .idih.

Pada aktifitas Om Bro sebagai motoris, di lapangan pasti Om Bro bakal ketemu salesman-salesman lain dari berbagai perusahaan. Ajaklah komunikasi mereka, karena dari mereka, kita bisa sharing berbagai hal bermanfaat, misalnya:

Rute canvas yang bagus

Biasanya yang lokasinya agak menjorok ke dalam dari jalan umum. Nah, informasi lokasi outlet seperti itu seringkali saya dapatkan dari salesman produk lain yang sudah tahu terlebih dahulu sebelum saya.

Info produk baru yang dijual oleh salesman tersebut

Informasi seperti ini sangat berguna bagi Om Bro yang statusnya freelance, karena produk baru seperti itu berpotensi menghasilkan keuntungan yang “lumayan.”

11. Tentukan Langkah Selanjutnya

Poin ke-11 ini bukan tips menjadi sales motoris yang handal, tapi lanjutannya.

Jika Om Bro telah berhasil menjalankan hal-hal di atas, tibalah saatnya Om Bro mengambil kesimpulan dan menentukan keputusan yang akan Om Bro ambil.

Ada 3 pilihan yang bisa Om Bro pilih:

Tetap bekerja diperusahaan tempat Om Bro bekerja sekarang

Jika pilihan ini yang Om Bro ambil, maka teruslah tingkatkan prestasi Om Bro.

Lakukan riset langkah-langkah yang dapat lebih meningkatkan prestasi Om Bro di perusahaan. Tetap sabar dan jangan patah semangat jika Om Bro belum juga dipromosikan untuk naik ke level berikutnya. Yakinlah bahwa kerja keras Om Bro tidak akan sia-sia.

Pimpinan perusahaan tentu punya kriteria-kriteria tertentu untuk mempromosikan bawahannya. Cari tahu apa saja kriterianya, tingkatkan prestasi Om Bro sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh management perusahaan.

Tapi ingat, junjung tinggi sportifitas. Jangan menjilat utaupun menggunakan jalan pintas. Cara-cara licik seperti itu tidak akan membawa Om Bro pada kejayaan dalam jangka panjang.

Jika Om Bro naik level melalui jalan pintas, di level berikutnya prestasi Om Bro yang sebenarnya akan diketahui oleh atasan Om Bro. Seperti dalam contoh yang saya ceritakan di atas tadi.

Ingat juga! Semakin tinggi jabatan Om Bro, maka semakin besar pula tanggung jawab dan tekanannya. Baik itu tekanan dari atas ataupun dari bawah.

Nah, menurut Om Bro, lebih enak ditekan atasnya atau bawahnya? Wkwkwkwk.

Jadi selain meningkatkan prestasi, Om Bro juga harus menyiapkan mental untuk tekanan yang lebih besar.

Resign (keluar) dari perusahaan dan mulai merintis usaha sendiri

Cara inilah yang saya pilih.

Saya pernah mendengar (entah mendengar dari mana. Wkwkwkwk.) bahwa salah satu pemikiran yang salah pada saat kita masih sekolah adalah pertanyaan: “Setelah lulus nanti, saya melamar kerja kemana ya?”

Apanya yang salah?

Yang salah adalah, kenapa dalam hati kita tidak muncul pertanyaan: “Setelah lulus nanti, saya kawin sama siapa ya?”

Wkwkwkwk. Hus. Salah.

Maksudnya pertanyaan ini:

“Setelah lulus sekolah nanti, saya buka usaha apa ya? Bagaimana saya bisa membuka lapangan kerja?”

Nah, itulah yang seharusnya.

Pertanyaan pertama tentu tidak sepenuhnya salah dan pertanyaan kedua juga tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya setelah lulus sekolah, kita belum cukup memiliki pengetahuan usaha didunia nyata, juga belum memiliki cukup modal untuk membuka usaha.

Pada kondisi seperti itu, kita memang harus bekerja pada perusahaan lain. Tujuannya ialah untuk menimba ilmu nyata di dunia kerja, sekaligus untuk menabung dari sebagian gaji selama bekerja di perusahaan tersebut.

Dari tabungan itu nanti Om Bro bisa punya modal usaha.

Pindah Kerja

Jika Om Bro belum mampu untuk menjalankan dua hal di atas, maka Om Bro punya pilihan ketiga, yaitu pindah kerja.

Tapi ada hal yang harus Om Bro perhatikan, yaitu:

Pindah ke perusahaan lain jika Om Bro yakin akan lebih maju di tempat baru

Keyakinan disini sangat penting. Tanpa keyakinan, semuanya bisa jadi berantakan.

Saya dulu pernah gagal bercinta gara-gara beda keyakinan dengan pacar saya. Saat itu saya yakin bahwa saya ini tampan, tapi pacar saya tidak percaya.

Wkwkwkwkwk. Bukan keyakinan yang seperti itu.

Bagaimana caranya agar bisa yakin?

Begini patokannya:

Jangan keluar dari perusahaan jika alasannya adalah karena tekanan yang terlalu tinggi.

Justru dengan tekanan yang tinggi itulah kita ditempa untuk menjadi pribadi yang hebat!

Seorang tentara bisa menjadi kuat dan siap perang karena latihan yang sangat berat. Bahkan Kopassus TNI bisa menjadi salah satu pasukan elite terbaik di dunia, karena latihan dan pengalamannya yang luar biasa beratnya.

Yah. Jangan disamakan dengan Kopassus dong?

Loh. Sama saja Om. Dunia kerja itu ibarat medan perang. Persaingan di luaran sana sangatlah ketat.

Ketatnya persaingan di dunia bisnis tidaklah seperti ketatnya celana Nikita Mirzani.

Wkwkwkwk. Salah lagi. Ngeres aja sih.

Pokoke intinya, jangan resign dari tempat kerja jika alasannya ialah karena tekanan yang berat.

Karena apa?

Karena akan ada ada tekanan baru ditempat kerja yang baru. Bahkan siapa tahu kalau tekanan ditempat baru justru malah lebih berat?

Terus kalau tekanan di tempat baru ternyata lebih berat, masa iya Om Bro mau resign lagi?

Jangan keluar kerja sebelum mendapatkan pekerjaan baru

Ini sering terjadi ketika seseorang merasa tertekan dan tidak betah ditempat kerja lama. Padahal ini sangat tidak baik.

Jika Om Bro keluar kerja sebelum mendapat pekerjaan baru, praktis Om Bro akan mengalami masa menganggur, walaupun itu hanya sementara.

Dan dalam kondisi menganggur, saya mendapati beberapa efek buruk, diantaranya:

  • Lebih sulit mencari pekerjaan baru

Entah ini mitos atau fakta, tapi begitulah yang saya alami.

Ketika saya menganggur, puluhan lamaran kerja yang saya kirim sulit sekali mendapat panggilan. Tapi saat saya sedang memiliki pekerjaan, banyak panggilan dari lamaran-lamaran yang lalu yang bahkan sudah saya lupakan.

  • Pola tidur dan pola makan tidak teratur

Ini hasil survey yang saya lakukan pada diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

Dalam kondisi menganggur, kita cenderung suka begadang dan nongkrong-nongkrong yang tidak jelas.

Lah iya. Karena kita tidak merasa harus bangun pagi untuk masuk kerja, kadang kita jadi terlena dan tidak memperhatikan waktu istirahat malam. Sukanya begadang ngga jelas.

Nah Om. Itulah sekelumit kisah saya dan sedikit share tentang tips menjadi sales motoris yang handal. Semoga kisah saya ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi untuk membawa kita pada kesuksesan. Amiin… (Bloglain – Tips menjadi sales motoris yang handal).

6 komentar untuk “11 Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal”

  1. Om komentar saya cuman satu om anda itu gila edan sinting sableng miring sarap stress (katanya Cuma 1 tapi sebaskom)
    Tapi saya SUKA anda semoga sukses terus Om sehat sejahtera bersama keluarga
    POSTINGAN YANG SANGAT BERMANFAAT

  2. wah nemu artikel yang tepat….. Baiklah… nanti aku mau laporan Ke pa RT, sama ibu ibu PKK. sekaligus diumumkan via Toa Musholla….

  3. Konten sangat inspiratif & bijak.. yg saya alami juga begitu saya resign dari perusahaan yg massa baktinya hampir 10 thn di perusahaan ini dan memilih buka usaha sendiri semacam freelance motoris, karena yg saya alami stay di zona nyaman & cari aman hanya buang2 waktu..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *