Review Film Fetih 1453 (Conguest 1453), Antara Jihad dan Aurat

Bloglain.com – Awalnya saya tidak tertarik untuk me-review film Fetih 1453 ini… Alasannya karena ini film lama, yaitu film tahun 2012. Namun setelah saya membaca salah satu review di internet yang mengkritik film ini pada beberapa adegannya, saya jadi tergelitik untuk membuat review dari sudut pandang saya sendiri.

Yup… Pada beberapa adegan, pemeran wanita film Fetih 1453 memang ada yang memamerkan aurat… Bahkan terbilang sangat vulg** untuk ukuran sebuah film yang bernafaskan Islam.

Selain itu, peran permaisurinya pun tidak mengenakan hijab.

So… bagaimana menurut pandangan saya??

Om/Siat sekalian… Pada artikel ini, saya tidak akan membahas secara detail dari film Fetih 1453 sinopsis atau pun plotnya. Saya hanya akan menyoroti dua hal, yakni perkara aurat dan drama perangnya…

Fetih 1453

Adegan Vulg**

Pertama, saya bakal kasih pandangan soal penampakan aurat dalam film yang versi baratnya disebut Conguest 1453 ini…

Jadi begini…

Beberapa orang menganggap bahwa adegan-adegan vulg** tersebut sama sekali tidak pantas dalam film yang bernafaskan Islam.

Iya memang benar…!! Saya juga setuju sekali dengan pandangan tersebut.

Tapi ada satu hal yang (mungkin) mereka lupa, bahwa Fetih 1453 adalah film Turki… bukan film Arab. Jadi, filmnya pun menggambarkan Turki dan Konstantinopel… yang memang seperti itulah Turki di masa itu.

Bukan hanya di masa itu, bahkan hingga saat ini…

Turki memang negara dengan mayoritas penduduk Muslim… tapi Turki bukanlah negara Islam. Bahkan Turki adalah negara Eropa, yang (menurut saya), meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi budaya Eropa sangat kental di sana. Termasuk juga dalam hal berpakaian.

Sama seperti Indonesia.

Lah iya… lihat saja Indonesia gimana… Meskipun mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, tapi tidak semua wanita Islamnya berhijab. Bahkan di kota-kota besar, banyak sekali aurat yang bertebaran dimana-mana.

Kemudian… perkara permaisuri dari Sultan Mehmed yang tidak berhijab, saya rasa karena memang dahulunya seperti itu… Kita tidak tahu seperti apa hukum Dinasti Ottoman saat itu, tapi saya pikir, memang disana kala itu tidak ada aturan untuk berhijab bagi seorang permaisuri ketika dia berada di lingkungan istana… terlebih ketika ia berhadapan dengan suaminya sendiri.

Lah kita aja kalo suami-istri kan bebas “buka-bukaan” kan?

Kemudian perkara adegan yang paling vulg**, kembali saya katakan bahwa itu adalah film Turki,… bukan film Arab.

Dan lagi adengan vulg** tersebut adanya di istana pihak musuh… bukan adegan di istana Ottoman.

Artinya,…, adegan tersebut memang untuk menunjukkan keadaan sebenarnya di Konstantinopel pada saat itu. Walau pun memang… bagi kita orang timur dan (mungkin) bagi bangsa-bangsa Arab, adegan tersebut semestinya bisa saja di tiadakan.

Yaa… itu dia… sekali lagi saya katakan bahwa (mungkin) adegan seperti itu tidak masalah bagi bangsa Turki, meskipun adegan itu di buat untuk film Islami sekali pun.

Oke… Saya anggap soal aurat sudah clear ya… intinya, semua saya kembalikan pada penilaian dari Om/Sist sekalian…

Adegan Perang

Kemudian yang kedua… Justru di film Fetih 1453 ini adegan perangnya yang saya tidak suka.

Maksudnya begini…

Di film ini, saya menangkap bahwa kunci keberhasilan penyerangan Sultan Mehmed ialah pada saat pasukan Ottoman “menyeret” kapal-kapalnya melalui pegunungan untuk melewati rantai-rantai penghalang yang dipasang di laut oleh pihak musuh.

Selain itu, kunci keberhasilan tembusnya benteng Konstantinopel adalah dengan adanya galian terowongan yang menembus langsung ke dalam benteng musuh.

Namun di sayangkan… dua strategi tersebut justu kurang di sorot dalam perencanaannya. Padahal, semestinya film ini bisa lebih dramatis jika ada bahasan perkara strategi perang yang tengah di susun oleh pasukan Sultan Mehmed.

Patutnya, film ini menampilkan berbagai perencanaan strategi perang seperti film Red Cliff, The Admiral, Troya dan The Great Battle.

Tapi ini tidak… Adegannya seolah-olah tidak ada solusi apa-apa, bahkan setelah Sultan Mehmed melalui hari-hari frustasinya, selanjutnya tidak ada detail perencanaan strategi perang.

Satu-satunya yang disorot hanyalah peningkatan daya ledak meriam. Wis itu doang. Itu pun saya rasa tidak begitu dramatis secara detail ceritanya…

Jadi, adegan perangnya seakan hanya terus-terusan menggempur benteng lawan tanpa henti hingga benteng bisa di tembus.

So… itu saja sih yang saya soroti… Selebihanya it’s OK lah ya… (Bloglain – Film Fetih 1453).

Review dan Sinopsis Film India Manikarnika the Queen of Jhansi

The Great Battle Sinopsis & Review: 5.000 vs 200.000 Tentara

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *