Beranda » Alfacart » Review Film Alpha 2018, Petualangan Survival yang “Biasa Saja”

Review Film Alpha 2018, Petualangan Survival yang “Biasa Saja”

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian! Jika ada review film Alpha 2018 yang mengatakan bahwa ini film bagus, maka saya anggap kata itu terlalu berlebihan.

Ya oke lah, saya setuju saja jika perkara sinematography’nya yang mereka bilang bagus. Tapi untuk isi cerita?

Sebelum masa rilisnya, saya sudah sangat menunggu kapan film Alpha tayang di Indonesia. Tapi setelah nonton, jujur saja, saya kecewa.

Kenapa?

Jenis Film

Pemain film Alpha adalah Kodi Smit-mcphee. Ia berperan sebagai Keda, anak seorang kepala suku pada zaman itu.

Alpha (2018) ialah film Adventure-Survival besutan Sony Picrures yang rilis pada bulan September 2018. Sutradaranya Albert Hughes. Pemerannya Kodi Smit-mcphee, Jhannes Haukur Johannesson dan Leonor Varela.

Alpha (2018) adalah film bergenre survival yang bersetting waktu pada zaman pra-sejarah, yakni pada 20.000 tahun yang lalu pada akhir jaman es.

Sinopsis Film Alpha (2018)

Kisahnya, Keda (Kodi Smit-McPhee) telah gagal dalam melakukan perburuan pertama bersama kelompok sukunya, termasuk ayahnya sendiri.

Pada perburuan itu, Keda jatuh ke jurang dan terluka cukup parah.

Ayah dan anggota suku menganggap bahwa Keda tewas saat terjatuh ke dalam jurang. Maka mereka meninggalkan lokasi perburuan.

Keda yang sebenarnya masih hidup, ia harus bertahan sendirian. Hingga suatu ketika ada kawanan serigala yang menyerangnya.

Keda berhasil selamat dari serangan kelompok serigala tersebut, bahkan ia berhasil melukai salah satu anggota kawanan serigala itu.

Awalnya Keda hendak membunuh seekor serigala yang berhasil ia lukai. Namun Keda merasa kasihan.

Keda membawa dan merawat si serigala yang kemudian ia beri nama Alpha, hingga sembuh.

Kisah selanjutnya, Keda bersahabat dengan Alpha. Mereka berdua berpetualang mencari jalan pulang sepanjang musim dingin yang mematikan.

Review Film Alpha 2018

Setelah menonton filmnya, saya merasa bahwa jalan cerita dari Alpha (2018) sangat terlalu sederhana, bahkan terasa hambar.

Ini film survival yang sepanjang film hampir hanya ada satu orang pemeran bersama seekor serigala saja. Tidak ada pemeran lain lagi.

Pemeran lain hanya hadir pada bagian awal dan akhir film saja.

Isi Cerita Terlalu Sederhana

Selain itu kisah survivalnya hanya menghadapi alam dan cuaca buruk saja. Tidak ada adegan lain yang cukup dramatis.

Iya memang ini bukan film thriller, jadi tidak harus tegang. Tapi setidaknya film ini seharusnya bisa lebih dramatis lagi.

Hubungan yang Kurang Emosional

Contohnya pada saat adegan Keda makan, tidak tampak ia memberi makan Alpha, meskipun saat itu Alpha telah jinak.

Kemudian pada masa transisi Alpha dari seekor serigala liar menjadi seekor anjing yang jinak pun terkesan datar. Tidak ada sorotan dramatis perkara hal-hal apa saja yang membuat Alpha menjadi jinak dan setia pada Keda, selain hanya karena Keda merawat Alpha selama ia terluka hingga sembuh.

Kemudian juga ketika dalam petualangan mencari jalan pulang, saya tidak melihat ada alur cerita yang dramatis. Murni hanya perjalanan saat musim es saja. Jadi jalan ceritanya terasa sangat datar. Hampir tidak ada klimaks dan anti-klimaks.

Tertolong Sinematographi

Beruntunglah film ini masih bagus dari sisi sinematografi.

Lokasi syutingnya dekat East Coulee, Alberta, Canada.

Selain lokasi syuting yang bagus, visual efeknya juga mampu memperlihatkan pemandangan yang tidak pernah kita lihat pada zaman now. Jadi tampak seperti benar-benar zaman pra-sejarah.

Kemudian detail adegan cara membuat pisau dan mata tombak dari lempengan batu, pun tampak real. Patut seperti pada zaman kuno ketika manusia belum mengenal logam dan pandai besi.

Juga gambaran cara menyalakan api tanpa korek api dan batu api, benar-benar menggambarkan zaman kuno.

Dan satu hal lagi yang paling menarik, yaitu bahasa yang mereka gunakan dalam film pun seperti bukan bahasa dari bangsa zaman sekarang. Seperti bahasa buatan yang memang sengaja mereka buat untuk kepentingan pembuatan film Alpha (2018). Jadi seperti benar-benar bahasa kuno.

Tapi dari bahasa itu, ada satu kata yang kita kenal, yaitu kata “Ayah” sebagai panggilan Keda kepada ayahnya.

Atau mungkin, bahasa dalam film Alpha itu mereka buat secara acak dari gabungan beberapa bahasa?

Mungkin juga.

Entahlah. Saya tidak mendapatkan sumber yang menyebutkan seperti itu.

Tapi yang jelas film ini jadi benar-benar berbeda dengan film yang berlatar waktu zaman now, seperti Avengers dan sebagainya. (Bloglain).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *