Beranda » Lain-lain » Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Hancur Usaha! Ini 6 Faktanya

Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Hancur Usaha! Ini 6 Faktanya

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian! Jika Om/Sist merasa pernah terbantu oleh rentenir berkedok koperasi, ada baiknya Om/Sist baca tulisan ini. Namun jika Om/Sist tidak tidak pernah berurusan dengan hal semacam itu, juga sebaiknya tetap baca tulisan ini. Agar jangan pernah berurusan.

Jadi intinya sih baca, supaya Om/Sist tidak sampai menjadi korban rentenir.

Zaman sekarang banyak sekali bertebaran rentenir yang berkamuflase menjadi Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). Dan luar biasanya lagi, saya pernah dengar (katanya) pelaku riba itu ada juga yang seorang Haji.

Tapi ya biar saja. Itu sudah menjadi urusan mereka dengan Tuhannya. Yang penting kita jangan ikut-ikutan.

Kali ini saya tidak akan membandingkan bunga kosipa dengan bunga bank, karena intinya keduanya haram.

Bukan saya sok suci ya Om. Dan memang fokus bahasan saya sekarang ini bukan perkara halal atau haramnya. Saya hanya akan mengajak Om/Sist sekalian untuk berfikir logis dalam setiap pengambilan keputusan.

Penyebab Banyak Orang Terjebak oleh Rentenir

Apa sih yang Om/Sist butuhkan dari rentenir berkedok koperasi itu? Untuk apa sih uang haram itu?

Misalnya bagini.

Untuk Membeli Kendaraan?

Ada banyak lembaga finance yang sudah jelas status hukumnya, misalnya FIF, Adira, Oto, bank-bank konvensional dan lain-lain.

Ada banyak kriteria riba, tapi saya tidak akan membahasnya secara mendalam karena saya tidak punya ilmunya. Jadi saya buat singkat saja menurut ilmu yang paling dasar, yaitu, kredit barang = halal, pinjam uang dengan bunga = haram.

Jadi kenapa kita harus pinjam uang riba untuk membeli kendaraan? Padahal lembaga pembiayaan kendaraan juga banyak.

Untuk Membeli Pakaian atau Perabot Rumah?

Ya sama. Kredit barang saja, jangan pakai uang riba.

Ada banyak juga lembaga pembiayaan kredit yang membiayai pembelian alat-alat rumah tangga.

Untuk Modal Usaha?

Salah! Seharusnya Om/Sist bekerja dulu, menabung, punya cukup modal, baru buka usaha.

Jika pun terpaksa harus pinjam modal, ajukan pinjaman ke bank, bukan malah ke rentenir berkedok koperasi.

Kan sama haram juga?

Setidaknya untuk urusan duniawi, bank tidak terlalu mencekik seperti rentenir.

Untuk Belanja Gaya Hidup?

Ini yang paling rusak. Duit pinjam ke rentenir terus ia gunakan untuk lifestyle.

Hubungan Antara Rentenir dengan Kehancuran Usaha Kecil

Dulu pada saat saya masih berprofesi sebagai sales motoris, hampir 3 tahun saya mengamati banyak warung-warung dan usaha kecil yang tutup karena bangkrut. Penyebab dari kebangkrutan mereka tentu saja berbeda-beda, namun sebagian dari mereka bangkrut karena terlilit hutang pada rentenir.

Apa iya sih kosipa bikin bangkrut? Bukankah mereka membantu permodalan usaha kecil?

Keliru jika Om/Sist berfikir seperti itu! Justru sebaliknya!

Fakta Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Usaha Kecil Hancur

1. Potongan Biaya Administrasi yang Merugikan

Ini kerugian yang pertama.

Jika Om/Sist mengajukan pinjaman dana pada Kosipa, maka Om/Sist akan terkena biaya administrasi pada saat pencairan dana, dengan cara memotong dana yang Om/Sist terima saat itu.

Saya pernah menyaksikan seorang pemilik warung langganan saya pada saat menerima dana pinjaman dari Kosipa. Ketika itu pemotongan biaya administrasinya ialah sebesar 10% dari nilai pinjaman.

Jadi ia hanya menerima uang sebesar Rp1.800.000 dari pengajuan pinjaman senilai Rp2.000.000. Edian kan besaran potongannya? Hilang Rp200.000 loh Om.

2. Suku Bunga Rendah tapi Palsu

Besaran suku bunga dari tiap-tiap rentenir berkedok koperasi bisa saja berbeda, sesuai kebijakan masing-masing Kosipa.

Salah satu cara Kosipa membuat muslihat adalah dengan “bunga rendah palsu”

Dari mana letak kepalsuannya?

Contoh sederhananya begini.

Biasanya marketing kosipa tidak memakai istilah “bunga sekian persen perbulan atau pertahun”, karena istilah seperti itu agak kurang familiar bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Mereka cenderung akan memakai istilah, “bunga Rp20,000 untuk pinjaman Rp2 juta”. Jadi lebih gampang mendapat pemahaman si nasabah alias korban riba.

Kecil ya?

Iya kecil. Tapi itu perminggu Om, bukan perbulan.

Perhitungan Asli Suku Bunga Rentenir

Coba sekarang kita hitung aslinya.

  • Dana yang ia terima adalah Rp1.8 juta
  • Bunga terhitung dari nilai bulat Rp2 juta, yaitu Rp20.000 perminggu

Nominal angsurannya adalah Rp100.000 (pokok) + Rp20.000 (bunga), maka jumlahnya menjadi Rp120.000 perminggu.

Sementara itu total angsuran yang harus ia bayar adalah Rp120.000 × 20 minggu = Rp2.4 juta.

Nah, karena sekarang saya menggunakan perhitungan “nyata”, maka besaran bunganya adalah:

  • Total angsuran Rp2.4 juta dikurangi dana real yang ia terima Rp1,8 juta = Rp600.000

Itu bunga yang harus Om/Sist bayar.

Selanjutnya jika kita konversikan pada hitungan persen, maka Rp600.000 adalah 33.33% dari Rp1.8 juta.

Kemudian kita hitung tenornya:

  • 20 × 7 hari / 30 = 4.67 bulan

Nah, 33.33 / 4.67 = 7.14

Artinya bunga rentenir berkedok koperasi itu adalah 7.14% perbulan, yang artinya lagi adalah 85.68% pertahun.

Makin edian aja kan?

Bandingkan dengan bunga KPR BTN subsidi yang hanya 5% pertahun. Yang berarti hanya 0.42% perbulan.

Atau bandingkan dengan kredit lemari es yang bunganya hanya 1.5% perbulan.

Apalagi secara hukum syariah, kredit barang = halal, sedangkan kredit uang = haram.

Apa itu nggak rugi berlapis namanya Om?

3. Belum Mendapat Manfaatnya Sudah Ditagih Kembali

Orang-orang kampung saya ada yang menyebut Kosipa dengan istilah ‘Bank ucek-ucek’.

Ucek-ucek adalah aktivitas mengucek mata saat baru bangun tidur. Jadi maksud dari istilah bank ucek-ucek ini adalah, saat uang pinjaman itu belum sempat kita gunakan untuk modal usaha kecil-kecilan, itu kolektor Kosipa sudah datang menagih setoran. Iya karena tagihannya mingguan, bukan bulanan seperti bank.

Bahkan koperasi-koperasi pasar kadang ada yang setorannya harian. Lebih pendek dari mingguan.

Ya ini kan lucu Om. Orang yang katanya pinjam dana untuk modal usaha, tapi nyatanya sebelum uang itu “berputar” sebagai modal usaha, seminggu kemudian sudah harus mulai mengembalikan uangnya ke rentenir + bunganya.

Tragis kan Om? Dapat untung saja belum, sudah harus membayar bunga alias riba.

Bahkan seringkali uang hasil pinjaman dari Kosipa malah habis ngga jelas. Sama sekali tidak efektif untuk modal usaha. Berbeda dengan jika Om/Sist kredit barang, ia tidak akan habis selama tidak Om/Sist jual.

Itulah kenapa kadang ada orang yang jarang punya uang tapi perabot rumah tangganya komplit. Salah satunya karena ia lebih memilih kredit barang seperlunya ketimbang pinjam uang ke rentenir.

4. Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Buaya

Ini contoh dari kasus lain.

Seorang berinisial ‘T’ tengah dalam kesulitan karena menunggak cicilan motor.

Dengan maksud untuk menyelamatkan cicilan motornya, ia mengajukan pinjaman ke rentenir.

Setelah dana cair, dana dari rentenir tersebut langsung habis untuk membayar cicilan motor + denda keterlambatan cicilan motornya.

Seminggu kemudian datanglah tagihan dari Kosipa rentenir, maka kali ini si ‘T’ kembali kebingungan karena tidak bisa membayar tagihan ke si rentenir.

Karena sampai beberapa tagihan tidak terbayar, akhirnya si motor ia gadaikan, lantas uang hasil gadai motor itu ia gunakan untuk membayar Kosipa rentenir.

Pada kemudian hari, ia semakin kesulitan karena harus membayar dua cicilan sekaligus, yaitu cicilan motor dan setoran Kosipa.

Akhirnya ia mengajukan pinjaman ke Kosipa yang lain untuk membayar cicilan motor dan tagihan kosipa yang pertama.

Selanjutnya lagi ia semakin pusing karena harus membayaran 3 setoran sekaligus.

Sampai saat cicilan motor lunas, si motor ia jual untuk membayar tagihan Kosipa.

Nah. Sampai sini seharusnya masalah sudah selesai.

Tapi nyatanya tidak! Dasar ia memang sudah ngga bener, tambah lagi dengan bujukan marketing Kosipa, maka si ‘T’ kembali berhutang ke Kosipa untuk DP motor baru.

Begitu seterusnya, tidak pernah ada habisnya hingga puluhan tahun lamanya. Edian kan?

Ini kan gila. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah selesai berurusan dengan rentenir jika pola fikirnya tidak berubah.

5. Bukan Memperbaiki Permodalan, Justru Malah Bikin Bangkrut

Ini terjadi pada salah satu warung langganan saya saat dulu saya masih menjadi sales motoris.

Seperti yang sudah saya singgung tadi, sebelum si warung sempat meraih keuntungan dari modal dana Kosipa, tagihan Kosipa sudah keburu datang menagih setoran.

Perlu Om/Sist ketahui bahwa usaha kecil se’level warung kelontongan, jika tidak memiliki basic salesman freelance, maka keuntungan yang ia dapat tidak akan signifikan. Kecuali jika Om/Sist pengusaha warung makanan olahan yang cukup ramai, mungkin baru masuk akal.

Tapi jika memang Om/Sist punya usaha yang bagus, ngapain juga harus punya hutang ke Kosipa?

Nah, warung langganan saya ini hanyalah warung biasa. Awalnya ia fikir akan memperbaiki permodalan warung dengan meminjam dana Kosipa.

Tapi seperti kasus si ‘T’ tadi, justru kondisi warungnya malah terbelit hutang dari 4 Kosipa sekaligus. Akhirnya bukan warungnya tambah komplit malah yang sudah ada habis buat bayar tagihan Kosipa.

6. Meningkatkan Kebodohan Masyarakat Menengah ke Bawah

Ini poin yang paling aneh menurut saya.

Suatu hari dengan bahasa setengah bercanda, saya mengingatkan mereka untuk berhenti menjadi “mangsa” Kosipa. Tapi apa jawaban mereka? Ternyata menjawab, “Ah, sayang kalo berhenti. Saya sudah jadi nasabah tetap. Sudah mendapat kepercayaan dari Koperasi. Yang ini bunganya rendah”.

Wkwkwkwk! Asli sumpah saya nggak habis fikir. Kalau saja nggak takut mereka tersinggung, mungkin saya sudah ketawa guling-guling.

Lah aneh. Ini orang mendapat kepercayaan dari rentenir berkedok koperasi ko’ malah bangga?

Luar biasa pembodohan Kosipa pada rakyat jelata.

Ya sudah. Biarkan saja mereka. Semoga kita tidak seperti mereka. (Bloglain).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *