Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Hancur Usaha… Ini 6 Faktanya

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian…!! Jika Om/Sist merasa pernah ditolong oleh rentenir berkedok koperasi, ada baiknya Om/Sist membaca tulisan ini. Namun jika Om/Sist tidak merasa pernah ditolong oleh rentenir, maka sebaiknya Om/Sist juga membaca tulisan ini…

Jadi intinya sih “baca” supaya Om/Sist tidak sampai menjadi korban rentenir.

Jaman sekarang, banyak sekali bertebaran rentenir yang berkamuflase menjadi Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). Dan yang luar biasanya lagi, saya pernah dengar (katanya) pelaku riba itu ada juga yang seorang Haji.

Innalillahi… Mau jadi apa dunia ini…??

Tapi sudahlah… Biar itu menjadi urusan mereka dengan Alloh.

Disini saya tidak akan membandingkan bunga kosipa dengan bunga bank… karena intinya keduanya haram…

Bukan saya sok suci ya Om… karena konsentrasi bahasan saya pun disini bukan pada sisi halal atau haramnya… Itu bukan area saya…

Saya cuma berusaha berfikir dan bertindak secara logis.

Maksudnya begini… Apa sih yang Om/Sist butuhkan dari rentenir berkedok koperasi itu?? Untuk apa sih uang haram itu??

  • Untuk membeli kendaraan??

Ada banyak lembaga finance yang “asli”… Ada FIF, Adira, Oto, Bank-bank Nasional dan lain-lain…

Kredit barang Insya Alloh halal.

Ngapain harus kredit uang riba yang haram… padahal ada cara yang halal??

  • Untuk membeli pakaian atau perlengkapan rumah tangga??

Sama… Kredit barangnya saja… jangan kredit uangnya.

Ada banyak juga lembaga pembiayaan kredit yang membiayai pembelian alat-alat rumah tangga.

  • Untuk modal usaha??

Salah… Om/Sist seharusnya bekerja dulu, menabung, punya cukup modal, baru buka usaha.

Jika pun terpaksa harus pinjam modal, ajukan pinjaman ke bank… bukan pada rentenir berkedok koperasi.

Kan sama haram juga??

Setidaknya untuk urusan duniawi, bank tidak menyengsarakan seperti rentenir.

  • Untuk belanja keperluan gaya hidup??

Ini yang paling ancur… Ngga usah dibahas panjang-panjang…

Rentenir berkedok koperasi

Trus, apa hubungannya antara rentenir dengan kehancuran usaha usaha kecil??

Saya cerita dulu Om…

Dulu saat saya masih jadi sales motoris, sehari-hari kerja saya adalah mengunjungi warung-warung langganan saya. Dan selama hampir 3 tahun dengan profesi ini, saya dengan sendirinya jadi banyak melihat warung-warung bangkrut dijalan-jalan yang saya lalui.

12 Perbedaan Sales Motoris dan Sales TO serta Kanvas

Penyebab dari kebangkrutan warung-warung tersebut tentu beragam… kompleks… bukan karena satu hal yang sama.

Namun dari banyak sebab kebangkrutan tersebut, masalah terlilit hutang rentenir yang paling punya pengaruh signifikan.

11 Kiat Sukses Usaha Kecil Warung Nasi + Kelontong ala Pak Suhara

Apa iya sih kosipa bikin bangkrut?? Bukannya malah membantu permodalan??

Keliru kalau Om/Sist berfikir seperti itu… Justru malah terbalik…

Begini fakta-faktanya…

Fakta Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Usaha Kecil Hancur

1. Potongan Biaya Administrasi yang Merugikan

Ini kerugian yang pertama…

Jika Om/Sist mengajukan pinjaman dana pada Kosipa, maka Om/Sist akan dikenakan biaya administrasi pada saat pencairan dana… dengan cara memotong dana yang diterima saat itu.

Saya pernah menyaksikan seorang pemilik warung langganan saya pada saat menerima dana pinjaman dari Kosipa. Saat itu, pemotongan biaya administrasinya ialah sebesar 10% dari nilai pinjaman.

Jadi dia hanya menerima uang sebesar Rp1,8 juta dari pengajuan pinjaman senilai Rp2 juta.

Edian kan besaran potongannya??

2. Suku Bunga Rendah tapi Palsu

Besaran bunga yang ditetapkan tiap-tiap rentenir berkedok koperasi akan berbeda-beda sesuai kebijakan masing-masing Kosipa.

Salah satu cara Kosipa membuat muslihat adalah dengan “bunga rendah palsu”

Dimana letak kepalsuannya??

Contoh sederhana:

Biasanya, marketing kosipa tidak memakai istilah “bunga sekian persen perjangka waktu tertentu”. Karena istilah itu agak sulit dipahami oleh kalangan ekonomi bawah.

Mereka lebih cenderung memakai istilah, “bunga Rp20,000 untuk pinjaman Rp2 juta”… Jadi lebih gampang dipahami oleh calon nasabah alias calon korban.

Kecil ya??

Iya kecil…

Tapi itu perminggu Om… Bukan perbulan.

Sekarang kita hitung deh…

  • Dana yang diterima adalah Rp1,8 juta
  • Bunga dihitung dari nilai bulat R2 juta, yaitu Rp20,000 perminggu

Nominal angsurannya adalah Rp100,000 (pokok) + Rp20,000 (bunga)… maka jumlahnya menjadi Rp120,000 perminggu.

Sementara itu total angsuran yang harus dibayar adalah Rl120,000 × 20 minggu = Rp2,4 juta.

Nah, karena disini saya menggunakan perhitungan “nyata”, maka besarnya bunga adalah:

  • Total angsuran Rp2,4 juta dikurangi dana real yang diterima Rp1,8 juta = Rp600,000

Itu bunga yang harus Om/Sist bayar

Selanjutnya jika kita konversikan pada hitungan persen, maka Rp600.000 adalah 33,33% dari Rp1,8 juta.

Kemudian kita hitung tenornya:

  • 20 × 7 hari / 30 = 4,67 bulan…

Nah… 33,33 / 4,67 = 7,14…

Artinya bunga rentenir berkedok koperasi itu adalah 7,14% perbulan… yang artinya lagi adalah 85,68% pertahun.

Makin edian aja kan??

Bandingkan dengan bunga KPR BTN subsidi yang hanya 5% pertahun… yang berarti hanya 0,42% perbulan.

Atau bandingkan dengan kredit lemari es yang bunganya hanya 1,5% perbulan.

Apalagi secara hukum syariah, kredit barang = halal, sedangkan kredit uang = haram.

Apa itu nggak rugi berlapis namanya Om??

3. Belum Mendapat Manfaatnya Sudah Ditagih Kembali

Kalau dikampung saya, istilah Kosipa diganti dengan “bank ucek-ucek”.

Ucek-ucek itu sendiri adalah aktivitas mengucek mata saat baru bangun tidur.

Jadi maksudnya adalah, saat uang belum sempat dipakai, sudah ditagih lagi sama kolektor Kosipa.

Ya ini kan lucu Om… Orang yang katanya pinjam dana buat modal usaha, tapi nyatanya sebelum uang itu “berputar” sebagai modal usaha, seminggu kemudian sudah ditagih lagi + bunganya.

Ini kan tragis…

Dapat untung aja belum, sudah disuruh bayar bunga…

Dan biasanya uang hasil pinjaman Kosipa itu suka habis nggak jelas… Beda kalau Om/Sist kredit barang, home theatre misalnya, nggak akan habis-habis sampai lunas kredit… Kecuali orang yang memang mentalnya ancur, bisa saja home theatre itu dijual sebelum lunas.

4. Kesulitan Membayar Tagihan Kosipa yang Pertama, Masuk Jebakan Kosipa yang Lain

Ini contoh dari kasus lain…

Seorang berinisial “T” tengah dalam kesulitan karena menunggak cicilan motor…

Dengan maksud untuk menyelamatkan cicilan motornya, dia mengajukan pinjaman ke kosipa.

Setelah dana cair, dana dari kosipa tersebut langsung habis untuk membayar cicilan motor + denda keterlambatan cicilan motor.

Seminggu kemudian, datanglah tagihan dari kosipa dan kali ini dia kesulitan membayar tagihan kosipa.

Karena sampai beberapa tagihan tidak terbayar, akhirnya si motor digadaikan, uang hasil gadai motor digunakan untuk membayar kosipa.

Dikemudian hari, dia semakin kesulitan karena harus membayar dua cicilan sekaligus… yaitu cicilan motor dan setoran Kosipa.

Akhirnya dia mengajukan pinjaman ke Kosipa yang lain untuk membayar cicilan motor dan tagihan kosipa yang pertama.

Dikemudian hari lagi, dia makin pusing karena harus membayaran 3 setoran sekaligus…

Sampai saat cicilan motor lunas, si motor dijual untuk membayar tagihan kosipa.

Nah… sampai disini seharusnya masalah sudah selesai…

Tapi nyatanya tidak…

Dasar dia memang sakit jiwa, ditambah lagi dengan bujukan marketing Kosipa yang sama-sama gilanya, Si “T” ini berhutang lagi ke Kosipa untuk DP motor baru.

Begitu seterusnya… ngga ada habisnya.

Ini kan gila… Sampai mati juga nggak bakalan beres urusan duit haram Kosipa kalau begitu caranya.

5. Bukan Memperbaiki Permodalan Tapi Justru Malah Membangkrutkan

Ini terjadi pada salah satu warung langganan saya saat dulu saya masih menjadi sales motoris…

Seperti yang saya jelaskan pada poin nomor 3 diatas, sebelum si warung sempat meraih keuntungan dari modal dana Kosipa, keburu kolektor kosipa datang nagih setoran.

Perlu Om/Sist ketahui bahwa usaha kecil selevel warung kelontongan, jika tidak memiliki basic salesman freelance maka keuntungan yang didapat juga tidak akan signifikan.

Metode Penetapan Harga Sales Motoris Freelance

Kecuali jika Om/Sist pengusaha warung makanan olahan yang cukup ramai, mungkin baru masuk akal.

Tapi jika memang Om/Sist punya usaha yang bagus, ngapain juga harus punya hutang ke Kosipa??

Nah, warung langganan saya ini hanyalah warung biasa… Awalnya dia fikir akan memperbaiki permodalan warung dengan meminjam dana Kosipa.

Tapi seperti kasus Si “T” diatas, justru keadaan warung dia malah terbelit hutang dari 4 kosipa sekaligus. Ini kan luar biasa… Akhirnya, bukan warungnya tambah komplit malah yang sudah ada habis buat bayar tagihan kosipa.

6. Meningkatkan Kebodohan Masyarakat Menengah ke Bawah

Ini poin yang PALING ANEH menurut saya..

Suatu hari dengan bahasa setengah bercanda, saya mengingatkan mereka untuk berhenti menjadi “mangsa” Mosipa.

Tapi apa jawaban mereka??

“Ah, sayang, udah jadi nasabah tetap. Udah dapat kepercayaan dari Koperasi. Yang ini bunganya rendah”.

Wkwkwkwk… Asli zumpah saya nggak habis fikir. Kalau saja nggak takut mereka tersinggung, mungkin saya sudah ketawa guling-guling didepan mereka.

Lah aneh… Ini orang dipercaya sama rentenir berkedok koperasi kok malah bangga?? Ini orang makan duit haram setiap hari kok malah bangga??

Apa nggak luar biasa itu pembodohan Kosipa pada rakyat jelata ini??

Hadeuh… Na’udzubillahi mindzalik…

Ya sudahlah… Mari kita sama-sama berdoa… semoga Alloh menjauhkan kita dari godaan Kosipa yang terkutuk. Aamiin… (Bloglain).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *