Sales Motoris Freelance

Rekomendasi Produk Makanan Motoris Freelance

Bloglain.com – Om Bro! Sebelum ini saya sudah share perkara memilih kategori produk yang mampu mendongkrak keuntungan. Nah. Selanjutnya kali ini saya bakal share untuk pemilihan produk makanan motoris freelance yang mampu mendatangkan keuntungan bagus.

Pada artikel sebelum ini, saya sudah share 3 kategori produk yang bagus untuk keuntungan sales motoris freelance.

Produk-produk tersebut secara kategori umum antara lain:

  • Produk-produk home industri
  • Alat tulis kantor (ATK) dan alat-alat listrik
  • Makanan (jajanan)

Nah. Untuk bagian produk makanan, masih ada penjelasan detailnya lagi. Monggo simak kelanjutannya berikut ini.

Rekomendasi Produk Makanan Motoris Freelance

Ada beberapa jenis produk makanan motoris freelance.

Produk yang Tidak Recomended

Barang Branded (Produk dari Merk Terkenal = Fast Moving Product)

Produk makanan motoris freelance yang tidak recomended adalah produk-produk dari brand besar yang sudah populer.

Merk besar = kualitas tinggi = harga mahal.

Tentu. Perusahaan besar pasti akan menjaga kualitas produk demi kepuasan konsumen.

Perusahaan besar juga cenderung menggaji karyawannya dengan nominal yang relatif tinggi, atau minimal layak dengan patokan minimal UMP / UMK.

Lebih dari itu, perusahaan besar juga tidak segan untuk mengeluarkan anggaran promosi yang tidak sedikit.

Hasilnya?

Produk branded jadi lebih cepat populer bagi masyarakat, sehingga jadi lebih cepat laku.

Tapi akibatnya harga jual produknya jadi tinggi.

Jenis produk seperti ini bagus untuk kecepatan perputaran modal.

Kecocokan Produk Branded

Produk seperti ini sangat cocok untuk toko atau grosir yang sistem kerjanya “menunggu bola”.

Dalam sistem penjualan yang menunggu seperti itu, jelas lebih bagus dengan menyediakan produk branded atau produk fast moving. Karena jika tidak, maka calon pembeli tidak akan tertarik untuk membeli.

Umumnya masyarakat akan mencari dan membeli produk-produk yang populer dan banyak banyak muncul ke media-media iklan TV, internet dan sebagainya.

Nah, untuk menarik calon pembeli dan mempertahankan loyalitas pelanggan, sebuah toko harus menyediakan produk-produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan.

Produk jenis ini memiliki rasio keuntungan kecil, tapi mampu mendongkrak omset dengan volume penjualan tinggi.

Untuk sebuah toko atau grosir, produk jenis fast moving ini sangat bagus karena meskipun keuntungannya kecil, namun dengan volume penjualan yang besar maka keuntungannya pun jadi besar.

Tapi dalam konteks motoris, produk jenis fast moving seperti ini justru sangat tidak cocok.

Kenapa saya katakan tidak cocok?

Karena daya angkut sepeda motor tidaklah banyak. Jadi strateginya, kita harus bisa mendapat keuntungan layak dari jumlah produk yang sedikit.

Terus, seperti apa sih produk yang cocok untuk motoris freelance?

Yang cocok adalalah yang di bawah ini.

Produk yang Recomended

Produk Non-Branded (Bukan Merk Terkenal = Slow Moving Product)

Kategori produk makanan motoris freelance yang bagus justru barang yang belum populer alias non branded.

Produk jenis ini sifatnya berlawanan dengan dengan produk branded.

Karena sifatnya yang berlawanan, maka mereka bakal berantem melulu setiap kali bertemu.

Wkwkwkwk. Ngga Om.

Jenis produk non branded ini sifatnya slow moving produk karena ia tidak masuk ke iklan media massa.

Ketika pertama kali menawarkan ke warung-warung, memang ada kecenderungan pemilik warung akan menolak barang ini. Tapi barang ini punya potensi keuntungan tinggi lantaran harga belinya yang lebih murah, sedangkan harga jualnya sama dengan produk branded.

Nah. Dari sinilah mulainya ujian kemampuan Om Bro sebagai motoris. Yaitu bagaimana caranya Om Bro mensugesti pemilik warung supaya mau membeli produk yang Om Bro tawarkan.

Contoh

Produk Ger** Chocolat** adalah produk branded. Harga beli Om Bro adalah Rp9.500, sedangkan harga jualnya, pada umumnya adalah Rp10.000.

Pada kondisi ini kita dua pilihan:

Cara 1

Pilihan pertama, Om Bro menjual dengan harga semi grosir, yaitu Rp10.000.

Coba kita lihat.

  • Harga jual Rp10.000, kurangi harga beli Om Bro Rp9.500

Artinya keuntungan Om Bro hanya Rp500 rupiah per’box atau hanya 5,26% dari modal.

Nah. Berapa sih daya angkut sepeda motor?

Saya pernah coba “maksa” mengangkut barang menggunakan motor Honda Spacy saya, total nominal barang yang dapat terangkut hanya berkisar Rp1.6 jutaan saja.

Barang sebanyak itu tentu tidak akan tuntas terjual habis. Pasti akan ada sisa yang terbawa pulang.

Jika kita asumsikan barang yang terjual di hari itu adalah Rp2 juta.

Wkwkwkwk. Ngga mungkin! Lah barang yang terangkut saja hanya Rp1.6 juta. Bagaimana bisa jual Rp2 juta. Wkwkwkwk. Ngawur.

Maksudnya, kita asumsikan penjualan Om Bro hari itu adalah Rp1 juta dari nilai modal.

Omset Rp1 juta dengan persentase keuntungan seperti tadi, artinya keuntungan Om Bro pada hari tersebut hanya Rp52.600 saja.

Dan itu adalah nominal kotor sebelum beli bensin dan makan siang.

Anggap saja Om Bro beli bensin Rp15.000 dan makan siang Rp15.000, maka sisa keuntungan hanya Rp22.600.

Bawa pulang uang tersebut. Kasih ke istri. Maka istri Om Bro akan teriak, “Helow! Hari gini 22 rebu? Please deh!”.

Nah. Mampus deh elu. Wkwkwkwk.

Belum lagi kalau Om Bro seorang perok**. Habis sudah keuntungan dari penjualan hari itu. Dan istri Om Bro akan tidur membelakangi Om Bro pada malam harinya. Sedih kan?

Nah. Jadi cuma segitu keuntungan yang Om Bro dapat dari barang branded.

Cara 2

Cara pertama seperti itu sudah terlihat gagal. Sekarang kita lihat cara kedua.

Cara kedua adalah dengan menawarkan produk tersebut dengan seharga Rp10.500, yang artinya lebih tinggi dari harga jual semi grosir.

Dengan cara itu keuntungan Om Bro adalah Rp1.000 atau 10,53%.

Lumayan kan?

Tapi apa yang terjadi?

Pada saat Om Bro menawarkan harga itu ke outlet / warung langganan, maka warungnya akan teriak seperti istri Om Bro.

“Helow! Tokonya Mang Maman juga cuma jual Rp10.000. Masa’ sih kamu jual Rp10.500?. Please deh!”.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah, memangnya ada warung yang bisa teriak?

Wkwkwkwk. Maksudnya pemilik warungnya yang teriak.

Dan ternyata cara kedua pun gagal.

Jadi sekarang apa solusinya?

Solusinya

Untuk memenuhi permintaan pelanggan atas produk Chocolat**, Om Bro bisa gunakan produk alternatif, misalnya produk Happy Chocolate cigar.

Harga beli Happy Chocolate Cigar pada agen sumber barang motoris freelance adalah Rp7.500; isi 24 pcs; eceran Rp500 per’pcs.

Dengan modal Rp7.500, kita jual produk tersebut ke warung dengan harga yang sama dengan Chocolat**, yaitu Rp10.000.

Sekarang kita lihat.

  • Harga jual Rp10.000 kurangi harga modal Rp7.500

Artinya keuntungan Om Bro adalah Rp2.500 atau 33,33% dari modal.

Beda jauh ketimbang keuntungan dari produk branded tadi.

Jika pada hari itu penjualan Om Bro adalah Rp1 juta dari modal dengan rata-rata persentase keuntungan segitu persen, maka keuntungan Om Bro adalah Rp300 ribuan.

Uwow kan Om?

Jangan anggap remeh nominal yang “hanya 300 ribu” karena sekarang kita sedang bicara dengan kapasitas sales motoris yang hanya bermodalkan Rp1-2 jutaan saja.

Jika Om Bro punya modal lebih besar dan punya mobil untuk armada canvas, tentu omset dan keuntungan Om Bro juga akan lebih besar lagi.

Saya ingatkan lagi. Dalam hal ini saya berpatokan pada UMK wilayah setempat. Jadi jika misale Om Bro adalah sales motoris atau canvas freelance, kemudian punya penghasilan 4× lipat dari UMK, maka itu sudah luar biasa.

Begetoh Om.

Nah. Untuk produk-produk non branded seperti itu, biasanya tidak semua toko grosir menyediakan. Produk-produk recomended motoris freelance biasanya hanya tersedia pada agen atau grosir khusus saja. Harganya pun special motoris atau canvaser.

Dan tidak sembarang orang bisa mendapat harga special seperti itu.

Jadi kalau Om Bro datang ke grosir tersebut bukan sebagai sales freelance, maka harga yang akan Om Bro dapat juga harga normal untuk jualan warung. Artinya akan lebih mahal.

Produk Baru (Branded atau Non-Branded = Produk Slow Moving tapi Berpotensi Menjadi Produk Fast Moving)

Produk branded juga berpotensi menjadi produk makanan motoris freelance, tapi jika status produknya masih baru rilis.

Betul Om. Produk baru bisa memberikan keuntungan yang lumayan.

Harga produk baru dari perusahaan biasanya lebih rendah dari produk lama. Itu hal yang wajar Om. Biasanya memang perusahaan akan menjual produk baru dengan harga promo.

Contoh

Sekira tahun 2015 (jika tidak salah), Mayora Food melaunching beberapa produk baru, salah duanya adalah Wafer Roma kemasan 53.5 gram dan permen Kis Chewy2.

Kita bahas satu-persatu.

Wafer Roma Pack 53.5 gram

Rilis produk ini ialah untuk menandingi Recheese Nabati pack 52 gram.

Secara ukuran sudah jelas, Wafer Roma lebih unggul.

Kemudian dari sisi harga, Nabati 52g saat itu saya dapatkan dari sales perusahaa area Banjar Patroman dengan harga Rp1.500/pcs. Sedangkan wafer roma hanya Rp1.400/pcs (harga promo).

Sementara itu, harga jual semi grosir untuk keduanya adalah sama, yaitu berkisar Rp1.650-1.700/pcs.

Dari perbandingan dua produk tersebut, maka sudah jelas saya lebih memilih untuk menjual wafer Roma ketimbang wafer Nabati, secara mereka sama-sama band besar.

Permen Kis Chewy2

Kis Chewy2 juga termasuk produk makanan motoris freelance.

Ini produk inovatif dari Mayora. Permen lunak rasa buah + mint.

Lalu apa yang menarik minat saya untuk menjual produk ini?

Pada awal masa launching, harga dari perusahaan untuk produk ini adalah Rp3.300/zak 39 pcs. Sedangkan Kis reguler, harga dari perusahaan area Banjar adalah Rp4.500/zak 50 pcs.

Untuk harga jualnya, toko semi grosir biasa menjual Rp5.000 untuk warungan.

Nah. Jika saya menjual Kis reguler, maka praktisnua saya hanya akan mendapat keuntungan sebesar Rp500/zak.

Atas perbandingan tersebut, maka saya lebih memilih untuk menjual Kis Chewy2 dengan harga Kis reguler, yaitu Rp5.000/zak.

Jadi keuntungan saya adalah Rp1.700/zak.

Jika dilihat nominalnya memang kecil, tapi ketika kita hitung persentasenya: Rp1.700/Rp3.300 adalah 51,53%.

Itu angka yang dramatis Om. Sedramatis serial drama Korea. Wkwkwkwk.

Bayangkan tukang cilok, tukang cireng, tukang bala-bala atau bahkan tukang tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan enak, mereka harus bikin adonan dulu, menggorengnya dulu dan lain-lain untuk mendapatkan keuntungan segitu persen.

Belum lagi kalau produknya tidak habis terjual, kan basi Om.

Kita mah enak jual produk kemasan, nggak mikirin proses produksi dan lain-lain, sementara keuntungannya lebih dari lumayan.

Produk Promo (Umumnya Produk Baru dari Brand Besar)

Ini ibu-ibu nih yang doyan banget sama yang judulnya discount.

Kalau sudah dengar kata ‘Discount 50% Matahari Mall’, langsung saja ijo matanya.

Padahal ini kan malam hari, mana ada matahari malam-malam? Wkwkwkwk.

Lagi pula bukan itu yang akan kita bahas. Ini soal sales freelance, urusan laki-laki. Bukan urusan ibu-ibu. Wkwkwkwkwk.

Adalah hal yang sangat masuk akal ketika kita membeli barang promo dan menjualnya dengan harga normal. Dengan cara itu kita akan mendapatkan keuntungan lebih.

Ada 2 jenis promo yang dulu sering saya temui, yaitu promo minimarket / supermarket / pusat perkulakan dan promo langsung dari perusahaan.

Promo Minimarket / Supermarket / Pusat Perkulakan

Dulu saya ada 2 orang teman sesama motoris freelance yang suka sekali menggunakan metode ini.

Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah jarang ketemu mereka.

Contoh 1

Yang pertama inisial A. Ia selalu memantau promo Indomaret.

Pernah suatu hari dia cerita pada saya tentang harga Floridina dari produk Wingsfood.

Saat itu harga Floridina dari perusahaan area Kota Banjar Patroman adalah Rp2.375/botol. Pada suatu ketika, Indomaret mangadakan promo beli 2 dapat 3 yang setelah kalkulasi harga perbotolnya adalah menjadi Rp1.800.

Lumayan banyak kan bedanya?

Saya sendiri belum pernah menggunakan metode ini. Tapi yang jelas, jika Om Bro akan menggunakan metode ini, Om Bro harus benar-benar jeli. Om Bro harus tahu dulu berapa harga dari perusahaannya.

Jangan sampai Om Bro terjebak “promo retail”.

Maksud dari promo retail adalah, iya memang harganya lebih murah untuk hitungan harga eceran. Tapi sebenarnya masih lebih mahal dari harga grosir.

Contoh 2

Yang kedua teman saya yang berinisial E. Ia selalu memantau promo BTC Banjarsari.

Bentuk promo BTC yang sering ada adalah pemberian hadiah langsung berupa barang untuk pembelian produk tertentu dalam jumlah tertentu.

Jadi pada saat ia menjual barang promo tersebut ke outlet langganan, sebenarnya keuntungannya hanya sedikit. Tapi ia sudah dapat lebih dari hadiah barang itu tadi.

Namun ingat lagi Om! Cara ini masih sama seperti cara si A, yaitu harus jeli.

Kalkulasikan harga produk + bonusnya, yaitu dengan memperkirakan berapa harga hadiah langsung tersebut, kemudian sisa harganya begikan ke jumlah barang.

Pastikan bahwa hasil akhirnya, produk tersebut memang lebih murah dari harga perusahaan atau big grosir.

Promo Distributor

Bagi saya pribadi, saya lebih suka promo langsung dari distributor.

Saya punya 3 contoh promo langsung dari distributor wilayah Banjar, Ciamis dan Tasikmalaya.

Contoh Promo Potongan Harga Produk Mayora Food

Melalui PT Panjunan, produk Mayora food menawarkan dua program, yaitu potongan harga 1.5% untuk transaksi minimal Rp5 juta perbulan dan potongan harga 3% untuk transaksi minimal Rp20 juta perbulan.

Bagi saya yang kapasitasnya hanya motoris, program ini kurang pas, mengingat kekuatan modal saya yang terbatas. Tapi bagi Om Bro yang memiliki modal cukup + armada roda 4, ini cocok sekali. Apalagi kalau Om Bro punya toko grosir atau semi grosir, tentu lebih cocok lagi.

Mayora ini banyak banget produk fast movingnya. Bagus untuk meningkatkan omset dan mempercepat perputaran modal.

Contoh Program Potongan Harga dari Distributor Produk Recheese Nabati

Distributor Nabati wilayah Banjar – Ciamis pun menawarkan program potongan harga.

Salah satu dari 2 salesman nabati yang saya kenal pernah selama hampir 1 tahun menyuplai kebutuhan saya terhadap produk-produk Nabati.

Kenapa hanya salah satu?

Karena kalau salah 2, nanti nilainya cuma 8.

Wkwkwkwk. Dikira ulangan matematika kali ya?

Lanjut.

Dari salesman ini saya mendapat potongan 1.5% + 2.5% untuk pembelian minimal Rp1.5 juta pertransaksi.

Perhitungannya begini.

Anggap saja transaksi saya pas Rp15 juta, maka berarti:

  • Rp1.500.000 – 1.5% = Rp1.477.500
  • Rp1.477.500 – 2.5% = Rp1.440.563

Hasilnya, dari pembelanjaan senilai Rp1.5 juta tersebut saya mendapat potongan harga sebesar Rp59.437.

Ko sedikit?

Kalau pengen banyak ya belanjanya Rp150 juta. Wkwkwkwk.

Nah, melihat syarat minimal pembeliannya yang hanya Rp1.5 juta, maka program ini lebih bisa saya ikuti ketimbang promo dari Mayora.

Program dari produk Nabati ini lebih mudah saya ikuti karena programnya per’transaksi. Jadi Om Bro tidak perlu mengejar target sekian juta rupiah perbulan.

Contoh Trade Promo Produk Wings dan Lions Melalui PT Banjar Distribusindo Raya

Promo dari PT Banjar ini mekanisme programnya menjadi yang paling bagus menurut saya.

PT Banjar memberikan trade promo dengan produk berganti-ganti setiap seminggu sekali.

Misalnya minggu ini potongan 5% untuk produk Daia 52gr, minggu depan potongan 8% untuk produk Ciptadent 75gr dan seterusnya.

Umumnya trade promo Wings dan Lion ini ditetapkan tanpa syarat minimum pembelian. Hanya sesekali saja ada syarat minimum.

Jangan gentar jika produk trade promo minggu itu hanya barang-barang slow moving saja, karena disitulah jati diri kita sebagai salesman di uji.

Mampukah kita menjual produk slow moving?

Pasti mampu. Kerja kita “menjemput bola”, bukan menunggu bola.

Pokoke warung menolak, dukun bertindak.

Wkwkwkwk. Nggak gitu Om. Kita manusia modern, nggak pakai dukun-dukunan. Pakai dukun beneran. Wkwkwkwk.

Maksudnya ketika ada satu warung menolak, yakinlah masih banyak warung-warung lain yang mau membeli.

Yakinkan itu dalam hati.

Jangan takut menjual produk slow moving. Karena justru dari produk-produk itulah keuntungan terbesar usaha motoris freelance.

Produk Branded dalam Kemasan Jumbo

Secara teori umum, apabila kita menjual produk dalam jumlah besar, maka harga yang akan kita berikan pada pembeli adalah lebih murah ketimbang penjualan jumlah kecil.

Tapi teori itu tidak berlaku untuk motoris freelance.

Begini contohnya.

Permen Kis reguler kemasan zak, harga dari distributornya adalah Rp4.500/zak 50pcs.

Permen Kis reguler kemasan box (toples) harga beli dari distributor adalah Rp13.500/box 150pcs.

Artinya 1 box sama dengan 3 zak.

Harga jual Kis zak di toko semi grosir adalah Rp5.000/zak.

Jika Om Bro menjual Kis zak, maka Om Bro harus mengikuti harga jual semi grosir, yaitu Rp5.000. Yang artinya Om Bro hanya punya keuntungan sebesar Rp500 rupiah/zak.

Lantas, apakah saya akan menjual Kis box dengan harga Rp15.000/box karena isi dan harga belinya senilai dengan 3× Kis zak?

Jawabannya adalah tidak!

Saya menjual Kis box dengan harga Rp19.000/box.

Apa nggak kemahalan?

Bigini ceritanya.

Jika ada warung yang mempertanyakan jumlah isi/pcs produk tersebut, katakan pada pemilik warung bahwa, “Permen ini isinya 150 pcs, harga ecerannya 500 rupiah/3 pcs”.

“Jadi dari 1 box ini ibu akan mendapatkan uang Rp25 ribu.”

“Harga beli Ibu dari saya kan Rp19 ribu. Wah, ibu masih untung banyak Bu”.

Begitu sugestinya.

Jika cara itu gagal, Om Bro suntik sugesti lain pada pemilik warung. Misalnya, “Ini kan kemasan toples Bu. Setelah permennya habis, Ibu bisa gunakan toplesnya untuk wadah yang lain”.

Jadi kita buat seolah-olah toples itu termasuk dalam hitungan harga. Padahal aslinya toples itu tidak ada hitungan khusus.

Jangan takut Om. Hanya sedikit sekali pemilik warung yang sampai seteliti itu. Terbukti dari 180 outlet langganan saya, hanya ada 2 outlet yang complain perkara harga permen Kis kemasan box.

Sisanya lancar jaya.

Hokeh Om. Itulah sekelumit kisah saya. Itulah beberapa rekomendasi produk makanan motoris freelance. Semoga bermanfaat. (Bloglain).

2 komentar untuk “Rekomendasi Produk Makanan Motoris Freelance”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *