12 Perbedaan Sales Motoris dan Sales TO serta Kanvas

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian! Dalam dunia persilatan marketing tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah motoris, canvasser dan taking order. Tapi masyarakat umum yang tidak faham lebih sering menyebutnya dengan satu nama yang sama, yaitu ‘Sales’. Padahal ada banyak perbedaan sales motoris dan sales TO serta sales kanvas dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga penjualan.

Apa sajakah perbedaannya?

Tanpa panjang lebar, mari kita cekidot ke TKP.

Perbedaan Sales Motoris dan Sales Kanvas serta Sales TO

Beberapa perbedaan sales motoris dan sales To serta canvaser adalah:

1. Pengertian dan Cara Kerjanya

Sales motoris dan kanvas adalah lini paling depan dalam sebuah perusahaan distribusi, atau level paling bawah dalam kelas salesman. Namun walaupun levelnya paling bawah, sales motoris dan kanvas justru merupakan ujung tombak untuk menciptakan ‘daya tarik’ dari konsumen langsung terhadap produk perusahaan bersangkutan. Karena motoris dan sales kanvas’lah yang berinteraksi langsung dengan pedagang retail.

Salah satu tugas penting dari motoris dan kanvas adalah memperkenalkan produk baru dari perusahaan kepada retailer.

Sales TO dalam pengertian sederhana saya adalah salesman utama yang bertugas untuk menggenjot penjualan setinggi-tingginya demi mencapai keuntungan maksimal bagi perusahaan.

Perbedaan yang paling mendasar dari salesman TO adalah prosedur kerjanya dengan tanpa membawa barang.

Yup. Sesuai dengan namanya, ‘TO’ merupakan kependekan dari ‘Taking order’. Berbeda dengan motoris dan salesman kanvas yang langsung membawa barang.

2. Perbedaan Armada Niaga

Yang pertama, sesuai dengan namanya, ‘motoris’, maka armada niaganya pun sepeda motor dengan sadle bag (box khusus) untuk memuat produk-produk dagangannya.

Sejauh yang saya tahu, motoris selalu menggunakan motor pribadi dalam bekerja. Tentunya dengan kompensasi uang sewa kendaraan dan uang BBM setiap bulan dari perusahaan tempatnya bekerja.

Sedangkan salesman kanvas menggunakan mobil box atau minibus khusus armada niaga, serta driver (sopir)’nya.

Marena armadanya roda empat, otomatis armadanya ialah milik perusahaan. Berbeda dengan dua yang lainnya yang menggunakan sepeda motor.

Salesman TO menggunakan sepeda motor dalam tugasnya, namun tanpa membawa produk / barang. Singkatnya, tugas salesman TO hanyalah menerima pesanan untuk kemudian pesanan. Selanjutnya bagian pengiriman atau ekspedisi yang akan mengirim pesanan tersebut pada hari berikutnya.

Urusan armada niaga salesman TO, tiap-tiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan motor pribadi seperti motoris, namun ada juga perusahaan yang menyediakan motor inventaris untuk salesman TO.

Karena tugasnya yang sedemikian, salesman TO harus hafal item dan harga setiap produk.

3. Jenis-jenis Produk yang Dipasarkan

Motoris dan Canvaser

Seperti yang sudah saya singgung tadi, salah satu tugas motoris dan salesman kanvas adalah memperkenalkan produk baru ke retailer (pengecer).

Sedikit perbedaan pada motoris, produknya hanya produk baru dan produk slow moving saja. Dalam arti kasar, tugas motoris adalah membuat produk yang tidak / belum laku menjadi laku.

Sementara itu untuk salesman kanvas, selain hanya menjual produk slow moving, mereka juga membawa produk-produk fast moving.

Wajar sih, karena armada niaga kanvas lebih besar dan ada 2 orang yang menjalankannya, yaitu salesman dan driver. Maka sales kanvas perlu menjual produk fast moving untuk menutup cost operasional harian.

Salesman TO

Lain halnya dengan salesman TO.

Tugas sales TO adalah mendongkrak penjualan demi meraih untung besar bagi perusahaan.

Karena fokusnya pada omset, maka hampir tidak ada kewajiban bagi salesman TO untuk mempromosikan produk baru.

Nah Om. Sekarang mungkin Om/Sist akan mengira bahwa tugas salesman TO lebih ringan ketimbang motoris dan canvaser. Tapi sebenarnya salesman TO justru memikul tanggung jawab yang sangat besar.

Perlu Om/Sist ketahui bahwa pemilik toko besar cenderung lebih sensitif (mudah marah) ketimbang pemilik warung kecil. Jadi seorang salesman TO harus lebih siap mental dari motoris dan canvaser, dalam menghadapi pemilik toko.

Saya pernah mendapati seorang pemilik toko grosir di Banjar Patroman yang menolak produk yang ia pesan sebelumnya. Alasannya ialah karena sebelumnya si salesman taking order ke toko tersebut, tanpa memberitahukan adanya kenaikan harga.

Entah mungkin karena si sales lupa, tapi yang jelas pemilik toko jadi marah, bahkan me’reject barang pesanan tersebut.

Nah, ngeri kan Om?

Dari kejadian itu, pastinya salesman produk tersebut bakal terkena teguran dari kantornya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan salesman itu bakal terkena sanksi secara administrasi.

Jadi Om/Sist harus ekstra teliti jika menempati posisi sebagai salesman TO.

4. Harga Jual Produk

Sesuai dengan target outletnya yang menyasar retailer, sales motoris punya harga jual paling tinggi (paling mahal). Itu sudah menjadi kebijakan pasti pada semua perusahaan distribusi.

Sementara itu untuk canvasser, harga jualnya bisa berbeda-beda sesuai kebijakan perusahaan. Ada perusahaan yang menetapkan harga jual canvasser sama dengan motoris, namun ada juga yang menetapkan sama dengan harga jual TO.

Sedangkan pada posisi TO, harga jualnya cenderung lebih murah.

Jika pun harga jual TO sama dengan canvaser, pasti ada program-program tertentu untuk mendapatkan potongan harga bagi big grosir.

Contoh

Contoh yang pernah saya ketahui adalah harga produk Mayora Food dari PT Panjunan Banjar (distributor Mayora Food & Beverage wilayah Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar Patroman). Mereka menetapkan kebijakan potongan harga sebesar 1.5% untuk transaksi minimal Rp5 juta perbulan dan potongan 3% untuk transaksi minimal Rp20 juta perbulan.

Itu ketentuan tahun 2015. Entah dengan kebijakan sekarang.

Contoh lainnya lagi misale, harga jual produk Wings dan Lion dari PT Banjar.

Ketetapan potongan harga PT Banjar adalah dengan program trade promo produk tertentu. Nominal potongan harganya berbeda-beda dan berubah-ubah dalam beberapa minggu sekali.

Dengan kebijakan ketetapan harga seperti itu, pemilik toko grosir dapat memesan banyak barang sekaligus pada setiap produk yang sedang berada dalam masa promo.

5. Golongan Outlet yang di Cover

Sekilas sudah saya ulas tadi, bahwa tugas motoris adalah meng’cover outlet retail dan wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh mobil. Misale saja gang-gang sempit dan daerah pegunungan dengan medan berat.

Intinya area-area yang sulit tercapai oleh mobil kanvas dan mobil ekspedisi sales TO.

Demikian juga dengan salesman kanvas, pokok tugasnya adalah distribusi produk baru dan produk slow moving. Namun demikian, karena stock barang yang bawaan canvaser lebih banyak dari motoris, maka canvasser juga memikul tugas untuk mengcover outlet semi grosir yang belum tercover oleh salesman TO.

Kemudian untuk salesman TO, fokus utamanya adalah semi grosir sampai big grosir. Hal itu seperti yang saya sebutkan tadi, karena tugas terbesar salesman TO adalah untuk menggenjot keuntungan bagi perusahaan.

6. Wilayah Operasional

Sedikit mengulang.

Wilayah operasional motoris adalah lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh mobil, sedangkan salesman kanvas bertugas meng’cover outlet-outlet kecil pinggiran jalan raya.

Berbeda dengan motoris dan canvaser, salesman TO bertugas meng’cover semi-grosir, toko grosir, utamanya big grosir dan pasar tradisional, bahkan bisa juga masuk ke pasar modern.

7. Potensi Pelanggaran Wilayah

Pada umumnya, outlet salesman TO sudah tersusun rapi dalam database perusahaan. Hal itu karena setiap outlet TO harus melalui proses registrasi dahulu sebelum menjadi pelanggan perusahaan.

Dengan tertibnya database outlet TO, maka hampir pasti tidak akan ada pelanggaran wilayah operasional, baik pelanggaran sesama salesman atau bahkan dengan distributor wilayah lain.

Sementara itu untuk canvaser, pelanggaran wilayah operasional sangat mudah terjadi.

Walaupun outlet canvas juga tersusun dalam database, tapi kondisi membawa barang langsung dalam mobil membuat seorang canvaser bisa menjelajah outlet selain yang ada pada wilayah operasionalnya.

Yang paling bontot adalah motoris.

Sales motoris ini yang secara data outlet paling berantakan sehingga mudah sekali untuk melanggar batas wilayah operasional orang lain.

8. Potensi Kecurangan dalam Bekerja

Motoris

Selain soal pelanggaran wilayah, potensi kecurangan dalam bekerja pun menjadi perhatian saya.

Apakah Om/Sist pernah mendengar istilah sales buang barang?

Begini maksudnya:

Seringkali terjadi seorang motoris kesulitan untuk mencapai target penjualan. Hal itu terjadi karena motoris hanya membawa produk-produk slow moving dan produk baru saja yang relatif belum populer.

Singkat kata, produk penjualan motoris adalah produk yang sulit terjual dan kurang menarik minat masyarakat.

Saat motoris merasa “mentok”, biasanya ia akan menawarkan produknya pada toko semi grosir agar bisa mencapai target penjualan.

Nah, supaya bisa masuk ke toko semi-grosir, maka seorang motoris harus berani banting harga. Ia harus menjual produknya dengan harga yang lebih murah dari ketetapan perusahaan.

Kemudian pada laporan penjualan, ia akan memecah data penjualannya menjadi beberapa faktur / nota supaya terkesan ideal.

Selanjutnya karena si motoris menjual barang dengan harga lebih murah, maka jelas ia harus “nombok” saat menyetorkan uang hasil penjualan ke kantor.

Berat memang. Tapi bagi sebagian orang, mereka akan lebih memilih nombok setoran ketimbang harus mendapat omelan dari atasan.

Omelan gegara target tidak tercapai.

Maka jangan heran jika Om/Sist pernah melihat ada seorang motoris yang sedang santai tidur siang di Mesjid atau Mushola pom bensin, atau sedang bersantai berlama-lama ngopi di warung. Biasanya itu kelakuan motoris yang hobi buang barang. Wkwkwkwk.

Jadi buat Sista yang punya pasangan seorang motoris, hati-hati. Periksa apakah barangnya masih ada atau tidak? Jangan sampai laki-laki yang Sista cintai, ternyata “barangnya” sudah dibuang di toko.

Wkwkwkwkwk. Bukan barang yang itu! Ngeres aja ah.

Itu motoris. Sekarang kita menuju salesman kanvas.

Canvaser

Untuk canvasser, potensi kecurangannya bahkan lebih besar lagi.

Selain hanya “buang barang” dan “pecah faktur”, canvasser juga berpotensi melakukan mark up harga jual dari ketetapan perusahaan (jika harga jual standarnya sama dengan harga TO).

Sekarang saya ngaku. Saya dulu makan dan rokok selama kerja, hampir setiap hari dari hasil mark up harga.

Niat saya sih bukan curang-curang amat ya Om. Saya hanya ingin gaji pokok saya utuh setiap bulan.

Kenapa?

Karena jika saya makan + jajan dari uang gaji saat bertugas, maka hanya akan ada sedikit sekali sisa gaji yang bisa saya bawa ke rumah.

Bisa begitu?

Lah iya. Gaji saya saat itu hanya senilai UMK saja. Coba saja Om/Sist cari informasi melalui internet, berapa UMK Banjar – Ciamis pada tahun 2014 – 2015.

Kecil sekali Om.

Tapi sayang, praktek mark up harga yang saya lakukan, hanya bertahan selama beberapa bulan saja. Keburu terjaring audit Om. Sedih.

Sebenarnya sales canvaser tidak perlu melakukan praktek mark up harga jika perusahaan memberi nominal gaji yang ideal.

Tapi ya begitulah. Apa daya kita?

Terus, bagaimana dengan salesman TO?

Salesman TO

Canvaser dan salesman TO relatif lebih sulit untuk melakukan dua kecurangan seperti motoris dan canvaser. Karena pada sistem TO, ada pihak ketiga yang ikut terlibat, yaitu dropping (ekspedisi / bagian pengiriman) dan biasanya ada bagian penagihan juga.

9. Potensi Pencapaian Target Penjualan

Melihat dari potensi kecurangan tersebut, maka hampir pasti motoris yang paling mudah mencapai target penjualan.

Tapi tentunya dengan konsekuensi nombok yang lebih besar.

Sedangkan untuk salesman TO, mereka hanya bisa mencapai target penjualan dengan kerja keras.

Sementara itu antara motoris dan TO ada sales canvaser.

Secara pencapaian target, canvaser tergolong lumayan sulit.

Tapi ada kalanya seorang canvaser tidak mempedulikan target penjualan. Tak jarang seorang canvaser justru lebih mengutamakan keuntungan dari mark up harga ketimbang insentif bulanan dari pencapaian target penjualan. Soale biasanya nominal insentif’nya kecil.

10. Jam Kerja dan Kecepatan Kerja

Pada poin ini, salesman TO menjadi yang paling beruntung.

Dengan sistem kerjanya yang tanpa membawa barang, maka proses kerja salesman TO jadi lebih cepat, baik pada saat mengunjungi outlet ataupun pada saat membuat laporan penjualan.

Seorang canvaser masih lebih baik daripada motoris karena keleluasaan armada niaganya. Singkatnya, canvaser lebih mudah dalam menaikkan dan menurunkan barang di outlet kunjungan.

Yang paling apes itu motoris. Ia harus bongkar pasang barang setiap menghampiri outlet kunjungan. Apalagi kalau cuaca hujan, serasa ingin menangis hati ini.

Tapi sabar Om. Ini perjuangan namanya.

Kecualu dalam proses loading dan unloading barang di gudang, canvaser yang memakan waktu paling lama. Itu jelas karena canvaser harus memuat barang lebih banyak dan lebih kompleks ketimbang motoris.

11. Sistem Pembayaran dari Outlet

Untuk motoris dan canvasser, penjualan dilakukan selalu dengan sistem tunai. Sedangkan salesman TO, ada sebagian outlet (utamanya big grosir) yang diberikan fasilitas pembayaran secara kredit.

Tapi tidak semua outlet diberikan kredit. Hanya outlet-outlet tertentu saja yang memenuhi standar survey menurut kebijakan perusahaan distribusi yang bersangkutan.

12. Perbedaan / Persamaan Gaji Pokok, Insentif, serta Tunjangan-tunjangan

Dalam hal gaji dan lainnya (baca: upah), setiap perusahaan bisa berbeda-beda.

Contoh yang pernah saya tahu:

PT Panjunan Banjar menetapkan gaji pokok yang sama untuk semua golongan salesman, yaitu senilai UMK (Upah Minimum Kabupatan / Kota) setempat.

Perbedaan hanya terletak pada uang sewa kendaraan, uang BBM, dan insentif yang di dapat.

Lain halnya dengan PT Banjar Distribusindo Raya yang menetapkan gaji salesman TO lebih tinggi dari motoris.

Sedangkan menurut salah satu sumber lain, kabarnya PT Surya Mas Cisaga – Ciamis, menetapkan gaji dengan cara terbalik dari PT Banjar.

Betul Om. Kabarnya di Surya Mas, gaji motoris justru lebih tinggi ketimbang gaji salesman TO.

Nah Om. Kisah di atas untuk sales motoris perusahaan. Lain cerita untuk motoris freelance, bahasannya lebih kompleks lagi. Ada bahasan tentang memilih dan menentukan rute terbaikkategori produk yang menguntungkansumber barang yang menguntungkan, hingga metode penetapan harga untuk mendapat keuntungan yang ideal. (Bloglain).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *