Modus Penipuan Sales Keliling, Waspadai Ciri-ciri Ini!

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian…!! Saat itu di antara tahun 2015 – 2017… setidaknya ada 4 pelanggan saya yang menjadi korban modus penipuan sales keliling…

Sebenarnya ini bukanlah modus baru. Modus penipuan oleh oknum sales sudah lama terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tapi karena saya baru beralih profesi sebagai sales pada bulan Desember 2014, maka mulai dari rentang waktu itulah saya baru tahu langsung dari pengakuan korban.

Sebagai sales motoris freelance yang baru belajar, saya kaget bukan main pada saat ada pemilik warung yang berkata pada saya,

“Nggak bakalan saya belanja sama motoris lagi. Penipu…”

Dengan agak panik (karena masih baru) saya mencoba menenangkan si Ibu pemilik warung.

12 Perbedaan Sales Motoris dan Sales TO serta Kanvas

Pelan-pelan saya tanya, “Ada apa, Bu??”

Tapi si Ibu tidak menjawab. Bahkan dari sikapnya, secara tidak langsung dia mengusir saya.

Ya sudah lah. Dengan sedih dan bingung karena tidak tahu masalahnya, saya berlalu dari warung itu.

Saya tersinggung karena merasa terhina dengan kata “penipu” tadi. Tapi walaupun begitu saya tidak menyerah. Dengan didorong oleh rasa penasaran, saya datangi lagi warung tersebut pada jadwal kunjungan berikutnya

… tapi masih belum membuahkan hasil.

Saya baru bisa berbincang  “mesra” dan mencetak transaksi dengan pemilik warung tersebut pada kunjungan ke-5.

Si Ibu baru percaya bahwa saya sales asli setelah 5 kali kunjungan.

Ya wajar sih… Kalau sales palsu kan cuma datang sekali, nggak akan datang-datang lagi kecuali dia ingin di hajar massa atau minimal di sunat sampai pangkal telornya.

Apakah yang sebenarnya telah terjadi??

Modus Penipuan Sales Keliling

Seiring berjalannya waktu, pelanggan saya pun bertambah dan semakin intim lah hubungan saya dengan para pelanggan.

Sedikit-demi sedikit saya mulai memahami situasi dan kondisi dilapangan… dan mulailah saya tahu bahwa ada banyak pelaku penipuan dengan modus sales dari berbagai macam produk.

Dan seperti saya sebutkan di atas, ada 4 pelanggan saya yang menjadi korban penipuan dengan modus yang sedikit berbeda…

1. Sales multivitamin palsu

Korban: Bu Nia, pemilik warung di Dusun Citamiang, Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, Ciamis – Jawa Barat.

Pada sekitar jam 14.00 Bu Nia didatangi oleh 2 orang yang mengendarai satu motor dengan berboncengan.

Tanpa basa-basi 2 orang tersebut langsung menawarkan (secara paksa) produk multivitamin seharga 250,000 rupiah/box.

Bu Nia menolak dengan alasan tidak ada uang… tapi dengan dalih sedang kejar target penjualan dan dengan nada nyolot (agak membentak dan melotot), kedua sales gadungan itu terus memaksa.

Situasi di warung dan sekitarnya sedang sepi sehingga Bu Nia ketakutan dan akhirnya membeli produk tersebut.

Setelah pelaku pergi, Bu Nia membuka box multivitamin yang dibelinya… ternyata isinya hanya permen rasa susu yang merknya nggak jelas.

2. Sales obat nggak jelas

Korban: Bi Mini, pemilik warung di Dusun Kedungwaringin RT.009/006 Kelurahan Waringinsari, Kecamatan Langensari, Banjar – Jawa Barat.

Dua orang mengendarai mobil minibus menawarkan obat (yang tidak jelas merknya) seharga 300,000/box.

Orang-orang itu mengiming-imingi Bi Mini dengan uang sewa tempat untuk pasang spanduk iklan di warungnya. Jadi katanya Bi Mini harus membeli obat tersebut, kemudian esok harinya para aknum akan datang kembali untuk memasang spanduk di warung itu dan membayar uang sewa / kontrak tempat iklan.

Bi Mini sempat menolak, tapi para oknum memperlihatkan foto warungnya Pak Muslimin (warung lain yang masih satu RT dengan Bi Mini) pada layar ponselnya. Mereka berbohong dengan mengatakan bahwa Pak Muslimin sudah terlebih dahulu membeli.

Kebetulan istri Pak Muslimin ini adalah pegawai Puskesmas Langensari. Jadi Bi Mini berfikir, “kalau seorang tenaga medis saja mau beli, berarti ini obat bagus”.

Begitulah akhirnya Bi Mini membeli produk dari sales gadungan tersebut.

Setelah para penipu pergi, Bi Mini bergegas menuju warung Pak Muslimin. Maksudnya ingin memastikan apakah benar Pak Muslimin juga membeli obat sialan itu…

Tapi ternyata…

Kata Bu Surti (istri Pak Muslimin), tadi memang ada sales datang menawarkan obat, tapi dia tidak beli. Hanya warungnya saja yang difoto oleh penipu tersebut.

Maka lemaslah Bi Mini saat itu.

3. Sales silet palsu dan produk-produk kelontongan murah

Korban: Nenek Sifa, pemilik warung di Dusun Ciketug, Desa Pamulihan, Kecamatan Subang, Kuningan – Jawa Barat.

Saya lupa nama aslinya, tapi karena cucunya namanya “Sifa”, jadi saya menyebutnya “Nenek Sifa”.

Sebelum Nenek sifa, sudah ada Bu Popon (masih satu RW dengan Bi Mini dan Pak Muslimin) yang mendapatkan tawaran produk kelontongan dan sembako dengan harga murah. Tapi Bu Popon tidak tertarik dan bisa menolaknya.

Kejadiannya lain dengan Nenek Sifa.

Dua orang mengendarai minibus warna silver (satu pria satu wanita) menawarkan produk kelontongan dengan harga murah… ditambah lagi iming-iming akan mendapatkan gratis showcase (lemari pendingin minuman) jika dia berbelanja pada penipu itu.

Tapi syaratnya Nenek Sifa harus membeli dulu produk silet sehara Rp180,000/lembar (2 lusin) secara tunai, barulah esok harinya dia akan dikirim showcase dan produk-produk kelontongan yang dia pesan di hari itu.

Dia tertarik karena harga yang tertera di price list memang murah, di bawah harga pasaran. Tapi nyatanya sampai beberapa hari kemudian tidak ada yang datang mengirim showcase yang telah dijanjikan.

Pada saat saya datang di jadwal kunjungan rutin, Nenek Sifa menunjukkan kertas price list yang dia dapatkan dari penipu tersebut. Ya memang murah… bahkan lebih murah dari harga distributor.

Saya masih ingat 2 produk yang tertera disana, yaitu kopi Kapal Api Mix seharga R8,000/renceng, padahal harga normal grosir saat itu sudah 8,500.

Kemudian kopi ABC susu seharga Rp8,500/renceng, padahal dipasaran sudah Rp9,000.

Harga-harga itu sama persis seperti yang ada pada price list di warung Bu Popon. Besar kemungkinan pelakunya adalah orang yang sama atau yang satu komplotan.

Sayang sekali saat itu saya belum mulai bloging sehingga tidak terfikir dibenak saya untuk memotret price list palsu itu.

Kembali ke Nenek Sifa…

Dia masih berharap dengan meminta tolong pada saya untuk menelfon nomor HP yang tertera pada kertas price list.

Saya kaget, ada suara seorang perempuan yang menjawab dari seberang sana… Kira-kira begini jawabannya,

“Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar!”

Wkwkwkwk… Itu suara operator seluler otomatis…

Iya logikanya… namanya penipu ya nggak mungkin kasih nomor asli. Betul??

4. Oknum sales permen / cokelat (jajanan anak)

Korban: Teh Nia, pemilik warung di Cidolog – Ciamis – Jawa Barat.

Ini yang paling nggak enak buat saya…

Saat itu saya ini kan salesman motoris keliling yang juga berjualan jajanan anak-anak (termasuk permen dan cokelat), jadi saya merasa citra saya ikut tercoreng secara langsung.

Kalau disini kasusnya beda. Penipuannya terletak pada jumlah barang dalam satuan pcs.

Jadi begini…

Suatu hari ada 2 orang sales motoris dengan 2 motor. Masing-masing membawa produk yang sama.

Mereka menawarkan produk permen dan cokelat.

  • Satu permen toples isi 175 pcs

Saya tidak mendapatkan informasi harga beli dan harga jualnya, tapi kata Teh Nia, si sales mengatakan bahwa satu toples tersebut isinya 200 pcs.

Berarti itu sales menipu 25 pcs.

Disini memang Teh Nia agak lalai sehingga dia tidak sadar sedang ditipu. Dia tidak memeriksa secara detail kemasan produknya, padahal disitu tertera tulisan “Isi: 175 pcs”.

  • Baranh lainnya lagi adalah satu toples cokelat isi 70 pcs seharga Rl85,000 dengan harga eceran Rp1,000/pcs

Pada kemasan cokelat itu memang tertera tulisan “Isi: 100 pcs”, jadi asumsinya, Teh Nia masih mendapatkan untung 15,000 jika cokelat itu terjual semua.

Tapi ternyata setelah si oknum sales itu pergi, Teh Nia baru sadar bahwa segel dari toples tersebut sudah terbuka.

Penasaran, dia hitung, ternyata isinya hanya ada 70 pcs.

Menurut perkiraan saya, itu oknum menjual barang retur dari warung lain pada Teh Nia. Dan yang pasti, para oknum itu memang sudah berniat menipu. Terbukti sampai berbulan-bulan kemudian mereka tidak pernah datang lagi.

Dari beberapa contoh tersebut, semoga menjadi waspada untuk para pemilik warung yang kebetulan membaca tulisan ini.

Sebagai tambahan supaya Om/Sist lebih waspada, saya juga merangkum modus dan ciri-ciri lain dari penipuan ini,

1. Modus Penipuan Sales perabot rumah tangga

Modusnya adalah dengan penjualan paket. Misalnya, satu set juicer + blender + magic com seharga 1 juta rupiah, tunai alias cash.

Murah kan??

Murah sekali…

Tapi di hari tersebut Om/Sist hanya menerima satu unit juicer, sedangkan blender dan magic com akan dikirim besok.

Dan setelah Om/Sist membayar 1 juta, besoknya mereka tidak akan pernah kembali untuk memenuhi janjinya.

Untuk lebih meyakinkan calon korban, biasanya mereka akan berbohong dengan mengatakan,

“si Anu juga sudah beli tadi”.

Jadi seperti pada kasus Bi Mini di atas…

2. Sales regulator

Biasanya mereka datang berkelompok dengan mengatakan bahwa mereka adalah petugas dari Pertamina LPG.

Salah satu dari mereka akan masuk ke dapur, memeriksa dan membersihkan kompor, kemudian dengan segala cara mereka akan mengatakan bahwa,

“Regulator dan selang di kompor Anda tidak Aman”.

Selanjutnya mereka akan menawarkan regulator + selang dengan harga yang cukup mahal.

Biasanya korban akan terikat dan akhirnya membeli karena rasa kasihan / tidak enak setelah si sales ngoceh panjang lebar sambil membersihkan kompor dan area sekitarnya.

Jadi teknik penjualannya adalah dengan “setengah menjebak”.

Cara Mewaspadai Modus Penipuan Sales Keliling

Ringkasan ciri-cirinya sebagai berikut:

  • Jika menggunakan motor biasanya berboncengan berdua dengan memakai jaket warna gelap (hitam / cokelat)
  • Jika menggunakan mobil, hanya satu orang yang turun, sementara yang lain stand by didepan stir mobil
  • Menawarkan harga murah, jauh dibawah harga pasaran
  • Mengatakan bahwa si Anu (orang lain) juga sudah membeli
  • Memperlihatkan foto orang lain yang sebenarnya belum tentu membeli
  • Memberi iming-iming bonus / hadiah dan meminta uang pajak hadiah
  • Jika sistem kerjanya door to door, biasanya mereka berkelompok lebih dari 2 orang

Selain modus penipuan sales keliling tersebut diatas, Om/Sist sebagai pemilik warung juga harus waspada terhadap penipuan skala kecil… terutama jika Om/Sist berjualan bensin eceran.

Sebenarnya hal ini lebih pantas disebut “berbohong” dari pada disebut “menipu”. Tapi tetap saja efeknya merugikan.

Dan pelakunya justru pembeli, bukan penjual (sales).

Kasusnya begini:

Salah satu pelanggan saya, warungnya dipinggir jalan raya…

Suatu ketika ada pengendara motor yang kehabisan bensin. Dia kemudian bermaksud membeli 1 liter bensin + sebungkus rokok.

Selesai transaksi, dia pura-pura lupa membawa uang.

Dia pura-pura menitipkan HP sebagai jaminan di warung itu. Tapi ternyata itu modus doang. Dia tidak pernah kembali untuk menebus HP miliknya.

Pada saat saya berkunjung ke warung itu, sang pemilik warung memperlihatkan HP tersebut. Penasaran, saya cek, ternyata itu HP ancur. HP model tahun 2003 yang sudah tidak bisa di charge. Baterai kembung seperti mau meledak dan keypad sudah tidak berfungsi.

Itu artinya, si pemilik memang sengaja menukarkan HP tersebut dengan bensin dan rokok.

Selain itu, saya juga mendapati 2 warung lain yang menjadi korban dengan modus sama persis. Satu warung mendapatkan HP yang tidak kalah ancurnya dengan warung pertama, sementara satu warung yang lain mendapatkan arloji plastik murah yang sudah retak kacanya.

Saran saya, jika ada kejadian seperti itu, Anda cek betul-betul apakah HP (atau barang jaminan lain) tersebut masih layak pakai.

Jika Anda tidak faham, sebaiknya minta jaminan lain semisal KTP.

KTP elektrik tentu lebih berharga dari pada HP yang sudah ancur. Masih ada kemungkinan si pemilik kembali untuk mengambil KTP-nya dari pada dia harus ribet membuat KTP baru.

Nah… Om/Sist sekalian… Jika Om/Sist adalah pemilik usaha warung eceran atau semi grosir, waspadalah terhadap modus-modus penipuan seperti yang saya sebutkan diatas.

Tapi harus teliti juga, jangan sampai Om/Sist mencurigai salesman yang baik-baik.

Update:

Modus baru dengan berpura-pura menjadi pembeli. Nama korbannya Pak Entis, pemilik warung semi grosir di Kertahayu, Pamarican – Ciamis, pada hari Senin, 17 April 2017.

Kejadiannya begini…

Seorang wanita datang mengendarai sepeda motor dan memesan belanjaan berupa produk-produk kelontongan.

Cukup banyak dia pesan hingga tidak dapat dimuat menggunakan motor.

Karena barang pesanannya cukup banyak, dia berpura-pura akan mengangkut (membawa pulang) sebagian barang terlebih dahulu, dan akan kembali sambil membawa uang yang (pura-puranya) tertinggal di rumah.

Pak Entis sendiri sebenarnya sudah curiga karena beberapa hari sebelumnnya, si pelaku pernah datang menawarkan rokok dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Maka diam-diam Pak Entis mengikuti motor pelaku dari belakang.

Pak Entis semakin yakin ketika pelaku memacu motornya lebih cepat. Maka Pak Entis segera mengejar dan menahan penipu tersebut, kemudian menyerahkannya kepada polisi.

Jadi buat siapapun, seperti yang saya sebutkan di atas, jangan mudah tertarik jika ada seseorang yang menawarkan suatu produk dengan harga murah. Barangkali itu barang dari hasil menipu. (Bloglain – Modus penipuan sales keliling).

11 Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *