Beranda » Lain-lain » Cara Membuka / Memulai Usaha Kecil dengan Baik dan Benar

Cara Membuka / Memulai Usaha Kecil dengan Baik dan Benar

Warung nasi Andini Pak Suhara

Bloglain.com – Om Bro/Sista sekalian! Banyak sekali informasi yang beredar tentang cara memulai usaha kecil. Sekilas sepertinya mudah, tapi apakah Om/Sist yakin mereka itu memberikan tips berdasarkan dari pengalaman pribadi?

Tidak selalu Om. Banyak dari mereka yang tulisannya hanya contek-mencontek. Bukan hasil pengalaman pribadi. Faktanya pada kehidupan nyata, memulai usaha kecil bukanlah hal mudah. Banyak yang harus Om/Sist ketahui sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia usaha.

Jadi bagaimana cara memulai usaha kecil yang benar?

Kita cekidot ke TKP.

Cara Memulai Usaha Kecil yang Benar

1. Mulai dengan Bekerja pada Perusahaan Lain

Dulu saya beranggapan kalau sudah lulus sekolah kejuruan atau lulus kuliah, saya akan segera siap untuk memasuki dunia kerja. Tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Apa yang saya pelajari melalui dunia kerja, sama sekali berbeda dengan teori-teori yang saya dapatkan semasa masih sekolah.

Pada saat sekolah, saya mengambil jurusan management pemasaran. Tapi setelah lulus sekolah, saya harus mau menerima kenyataan bahwa mendapatkan pekerjaan yang layak bukanlah perkara mudah. Saya bahkan sempat menjalani profesi sebagai operator produksi kain rajutan. Pekerjaan yang sama sekali tidak membutuhkan ijazah SMK.

Pengalaman Kerja Penulis

Selain itu, saya juga pernah menjalani banyak profesi lainnya, antara lain:

  1. Office Boy PT Anggrek Kencana Jakarta (tahun 2000)
  2. Bagian Gudang PT Anggrek Kencana Sakti Jakarta (2000-2001)
  3. Operator home industry kain rajutan (2001, 2002 dan 2006
  4. Pramuniaga Toko Bhinneka Banjar Patroman (2007)
  5. Sales Force produk elektronik PT Kharisma Gemilang Pratama cabang Banjar Patroman (2007)
  6. Office Boy dan Penyiar Radio JAS FM Banjar Patroman (2007)
  7. Waiter Komala’s Restaurant Jakarta (2007-2011)
  8. Staff Administrasi produksi PT Multi Kencana Niagatama, Serang, Banten (2011-2013)
  9. Buruh bangunan sebagai kenek tukang las bagian konstruksi, Jakarta (2014 dan 2017)
  10. Salesman kanvas dan motoris PT Panjunan Banjar (Mayora Foods) dan PT Banjar Distribusindo Raya (Lion Wings) (2014-2015)
  11. Motoris freelance (2015-2017)
  12. Blogger (2016 sampai sekarang)
  13. Driver Ojek Online (2018)

Nah, pekerjaan saya sebagai Sales Freelance, Driver Ojol dan Blogger itulah yang menjadi dasar tersusunnya tulisan tentang cara memulai usaha kecil ini. Utamanya pada saat saya masih menjadi Sales Freelance, saya memulai usaha kecil tersebut atas ilmu dan modal yang saya dapat dari pekerjaan sebelumnya. Yaitu saat saya masih bekerja menjadi karyawan perusahaan lain sebagai Sales Kanvas dan Motoris.

2. Pilih Pekerjaan Lapangan

Mayoritas orang berfikir lebih enak kerja kantoran ketimbang kerja lapangan.

Iya memang benar. Saya juga tidak memungkiri hal itu.

Tapi kenyataan yang banyak terjadi justru lebih banyak orang sukses yang memulai karirnya dari lapangan. Karena ada banyak kelebihan pekerjaan lapangan yang nantinya bisa menjadi modal saat Om/Sist hendak memulai usaha kecil sendiri.

Dan ketahuilah! Ilmu lapangan itulah yang akan menjadi pondasi kuat untuk usaha Om/Sist nantinya.

Dari ilmu yang Om/Sist dapatkan melalui dunia kerja itu nantinya Om/Sist akan memulai usaha kecil yang kuat. Bukan usaha yang sebentar kemudian tumbang karena kurangnya pengetahuan dan perencanaan.

Jika Om/Sist jeli dan cerdas, Om/Sist hanya butuh waktu sebentar untuk mampu menyerap ilmu dari pengalaman kerja melalui perusahaan lain. Saya sendiri dulu hanya butuh waktu 6 bulan untuk menyerap ilmu penjualan sebelum akhirnya saya memulai usaha kecil sendiri.

3. Pelajari Peluang Usaha saat Masih Bekerja

Mempelajari potensi pasar tidaklah melulu harus memperhatikan peluang usaha yang sama dengan bidang pekerjaan Om/Sist sekarang.

Ada kalanya seseorang justru mendapatkan peluang usaha dari bidang yang “nggak nyambung” dengan keahliannya.

Salah satu teman saya berprofesi sebagai pemborong proyek perumahan, padahal dulunya ia seorang salesman produk air mineral.

Nggak nyambung kan?

Tapi ya begitu. Ia mendapatkan banyak ilmu dan informasi selama berprofesi sebagai salesman. Salah satunya informasi dan ilmu tentang peluang usaha sebagai pemborong bangunan.

4. Menabung Saat Masih Bekerja

Untuk bisa membuka usaha sendiri, Om/Sist tentu harus punya modal materi selain ilmu. Karena ilmu yang telah Om/Sist dapatkan tidak akan dapat berjalan tanpa modal materi.

Dan ingatlah untuk menyiapkan dana cadangan selain modal pokok. Ada kalanya rencana usaha yang sudah kita pertimbangkan pun tidak langsung berjalan dengan mulus.

5. Lakukan Riset Pasar

Setelah Om/Sist membaca peluang dan memiliki sejumlah tabungan, mulailah melakukan riset pasar.

Sebagai contoh. Jika Om/Sist penghuni lingkungan perumahan yang masih relatif baru, Om/Sist berpeluang untuk membuka warung kelontongan, usaha kuliner praktis, bisnis ketering, laundry atau usaha isi ulang air minum kemasan galon.

Munurut apa yang saya lihat, penghuni perumahan (termasuk saya) cenderung lebih suka jajan ketimbang masak sendiri. Meskipun tidak selalu seperti itu.

Dan itu bukan cuma hasil pengamatan saya saja. Sebelum membuat artikel ini, saya sempat juga sharing dengan setidaknya 4 orang yang juga penghuni perumahan.

6. Cari Informasi Sumber Barang yang Murah Tapi Bagus

Jika Om/Sist sudah memutuskan pilihan jenis usahanya, tibalah saatnya Om/Sist mencari sumber bahan baku atau produk yang akan Om/Sist jual.

Tidak usah buru-buru. Om/Sist cari informasi yang tepat selagi Om/Sist masih kerja menjadi pegawai perusahaan lain.

7. Lakukan Eksperimen

Setelah Om/Sist siap memulai usaha kecil, lakukanlah beberapa eksperimen alias percobaan.

Misalnya Om/Sist bermaksud membangun usaha warung bakso, maka cobalah buat sekiranya 1 kg bakso, kemudian buatlah porsi seukuran yang kira-kira sama atau lebih besar dari porsi tukang bakso lain pada umumnya.

Hitunglah berapa porsi yang Om/Sist dapat, kemudian konversikan dengan rata-rata harga jual sekitar.

Setelah mendapat hasilnya, coba hasil itu Om/Sist kurangi nominal modal.

Minimal potensi keuntungan yang Om/Sist dapat harus mencapai 50% dari harga jual (untuk makanan olahan).

Jadi misalnya modal Om/Sist Rp100 ribu, dengan rencana harga jual Rp10 ribu perporsi, maka produk bakso Om/Sist haruslah menjadi 15 porsi/1 kg.

Dan itu adalah angka minimal. Idealnya bisnis kuliner haruslah memiliki potensi laba kotor hingga 100%.

Singkatnya sih, jika modal Om/Sist Rp100,000, maka Om/Sist harus mendapatkan omset sebesar Rp200,000 (dengan asumsi produk terjual habis).

Kenapa harus sebesar itu?

Karena banyak resiko yang harus Om/Sist tanggung sebagai pengusaha kuliner. Banyak pengeluaran-pengeluaran kecil yang sering luput dari perhitungan modal awal.

Selain itu, usaha kuliner juga memiliki resiko kerugian jika produknya tidak terjual habis. Berbeda dengan produk kelontongan yang lebih tahan lama alias tidak basi.

Contoh lain

Jika Om/Sist memutuskan untuk menjadi salesman freelance, maka cobalah Om/Sist jalankan dulu saat hari libur kerja (hari Minggu).

Lakukan setidaknya 4 kali percobaan, barulah Om/Sist bisa mengambil keputusan bulat jika memang akan berhenti kerja dan memulai usaha kecil sendiri.

8. Mulai dengan Berjualan Keliling

Banyak pengusaha yang sukses karena mengawali usaha dari berjualan keliling.

Lalu bagaimana jika kita mengawali usaha dengan langsung menetap?

Pada dasarnya bisa saja, tapi resiko kegagalannya lebih besar ketimbang berjualan keliling.

Usaha kecil tanpa pondasi / pengenalan brand yang kuat, rentan sekali gagal. Selain itu, Om/Sist juga harus memiliki modal berlapis untuk mendukung kelangsungan usaha selama belum berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah anggaran promosi.

Kenapa harus ada anggaran promosi?

Karena kita hidup pada zaman persaingan ketat.

Mengawali usaha tetap pada zaman ini tanpa promosi, berarti Om/Sist harus sudah siap kalah dari kompetitor.

Nah. Berjualan keliling itu ibarat promosi secara natural. Jadi ketika nanti Om/Sist menetap, ketika itu sudah banyak pelanggan yang Om/Sist dapatkan sejak masih berjualan keliling.

9. Buat Sistem Administrasi Sederhana

Tidak harus dengan sistem administrasi yang sepenuhnya benar. Cukup dengan corat-coret sederhana, asal rapi dan mudah Om/Sist mengerti sendiri.

Tidak harus super detail seperti sistem administrasi perusahaan besar. Yang penting mencakup modal belanja (termasuk biaya awal untuk membeli perlengkapan), biaya operasional, biaya gaji (jika sudah memiliki pekerja) serta biaya lain-lain.

Konversikan dengan pendapatan satu bulan dan lakukan stock opname setiap akhir tahun. Dengan begitu Om/Sist akan tahu apakah usaha yang Om/Sist jalankan itu menguntungkan atau merugi.

Jika merugi, Om/Sist bisa melakukan evaluasi dari data yang telah ada untuk kemudian melakukan perbaikan pada masa yang akan datang.

10. Konsisten dan Perpanjang Waktu Kerja

Jika Om/Sist ingin jadi wirausahawan yang sukses, maka jangan pernah berpatokan pada jam kerja seperti pada saat Om/Sist masih bekerja menjadi karyawan perusahaan lain.

Semakin panjang waktu operasional, semakin besar pula potensi berhasilnya.

Mulai buka usaha pada jam awal sebelum kompetitor buka dan tutup warung paling akhir.

11. Tempel Lokasi Usaha Kompetitor

Ini salah satu strategi dari dua raksasa minimarket Indonesia, yaitu Indomaret dan Alfamart. Coba Om/Sist perhatikan. Setiap ada salah satu dari keduanya yang mendirikan cabang pada suatu tempat, maka satu yang lainnya akan segera mendirikan juga pada lokasi yang berdekatan atau bahkan satu lokasi persis.

Sayangnya tidak jarang calon pengusaha kecil yang justru menghindari persaingan. Padahal dengan Om/Sist berdiri dekat kompetitor, sejatinya Om/Sist sudah mendapatkan promosi secara gratis. Pelanggan kompetitor Om/Siat akan segera tahu bahwa ada Om/Sist yang masih baru pada area tersebut.

Umumnya manusia normal (entah dalam waktu panjang atau pendek), pasti akan merasa penasaran untuk mencoba “sesuatu yang lain”. Dari situlah nanti Om/Sist bisa menunjukkan bahwa Om/Sist memiliki produk yang tidak kalah atau bahkan lebih baik dari produk kompetitor.

Cara inilah yang dulu saya tiru saat saya menjadi motoris freelance. Saya seringkali masuk ke area pasar freelancer lain dengan cara mendahuluinya secara jam kerja. (Bloglain).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *