6 Kerugian Merokok Selain Bagi Kesehatan…

Kerugian merokok selain bagi kesehatan – Bloglain.com – Om Bro…!! Mungkin Om Bro pernah mendengar ejekan (candaan) seperti ini, “Elu nggak ngerokok?? Masa’ kalah sama banci?? Banci aja ngerokok…”

Dari situ timbul umpan balik, “Berarti kalau ngerokok jadi kayak banci dong??”

Wkwkwkwk…

Ya nggak juga… Dan ngapain juga malah ngomongin banci…

Begini Om…

Jika diperhatikan dari judul diatas, mungkin Om Brl akan berfikir bahwa saya ini bukanlah seorang perokok, makanya membuat artikel seperti ini.

Tapi Om Bro salah… Saya perokok (lumayan) berat. Saya merokok dari usia 4 tahun sampai usia saya sekarang sudah 37 tahun… berarti sudah 33 tahun lamanya dan sampai sekarang belum bisa berhenti.

Bahkan selama periode 2007 sampai 2011, saya (hampir) selalu menghabiskan 40 batang rokok per-24 jam.

Kalau saja ditahun 80-an sudah ada undang-undang perlidungan anak, mungkin Bapak saya kena pasal karena membiarkan seorang balita merokok.

Untung saja saat itu belum ada. Kan kasihan bapak saya…

Ada banyak sekali orang yang mengatakan tentang keburukan (dampak negatif) merokok bagi kesehatan. Tapi jarang sekali orang yang melihat dari sisi lain. Maka dari situlah saya mulai membuat artikel ini dengan isi yang sejujurnya.

Dua fakta penting lainya yang menarik adalah… jika Anda pernah membaca artikel tentang “cara berhenti merokok”, maka saya jamin itu adalah 99% teori..Karena sepanjang perjalanan hidup saya sampai saat ini, saya baru menemukan 2 hal yang mampu menghentikan kebiasaan merokok seketika, yaitu:

1. Sakit parah

Setidaknya ada 4 orang yang saya kenal, yang berhenti merokok karena sakit. Dan ada banyak orang yang tidak saya kenal, yang saya hanya dengar ceritanya dari mulut-kemulut.

2. Niat yang sungguh-sungguh

Jarang sekali orang yang berhenti merokok hanya karena niat.

Tapi bukan berarti tidak ada.

Mertua saya berhenti merokok bukan karena sakit. Bapak Mertua berhenti begitu saja tanpa sebab yang kuat… hanya niat dan sedikit harapan untuk dapat berhemat.

Nah, itu ada tujuan berhemat…??

Tidak juga. Selama tidak ada niat yang bulat, tujuan berhemat hanya akan mengurangi jumlah batang rokok yang dihisap… atau hanya akan mengganti rokok yang mahal dengan rokok yang murah.

Bahkan dikampung saya, seorang perokok yang hemat rela menghisap tembakau irisan dengan “melintingnya” sendiri.

Nah, sebelum masuk ke sesi keburukan, saya rasa Om Brk juga perlu tahu bahwa merokok pun punya sisi keuntungan. Cobalah simak efek posisif (bagi yang sudah kecanduan) berikut ini:

Kebaikan Merokok

1. Lebih mudah bergaul

Bagi yang bukan perokok, bisa jadi hal ini justru dianggap “salah pergaulan”.

Tapi bagaimana jika yang dimaksud adalah pergaulan dilingkungan yang wajar?

Maksudnya begini…

Orang yang tidak merokok cenderung lebih mudah merasa jenuh, sehingga tidak betah berlama-lama saat bercengkerama dengan kerabat / teman / saudara. Berbeda dengan seorang perokok yang lebih betah bercengkerama bahkan dengan orang yang baru dikenalnya.

Saya sering (bahkan sudah lama) memperhatikan orang-orang yang bukan perokok. Saya menangkap pola yang sama, yaitu jarang keluar rumah dan tidak suka berkumpul (dengan teman / kerabat) dalam waktu lama.

2. Lebih mudah mengendalikan emosi

Bagi yang bukan perokok, tentu tidak ada hubungannya antara rokok dengan pengendalian emosi.

Tapi bagi saya, ini menjadi sangat penting.

Dari hasil sharing dengan teman dan dari pengalaman saya sendiri, seseorang selalu menghisap rokok pada saat tertekan, stress, sedih dan emosi. Faktor inilah yang paling berperan dalam menggagalkan usaha seseorang untuk berhenti menghisap rokok.

Nah… kira-kira hanya 2 hal itu sajalah yang bisa saya anggap sebagai kebaikan merokok. Selebihnya, selain bahaya untuk kesehatan, merokok juga memiliki beberapa dampak negatif sebagai berikut:

Kerugian Merokok Selain Bagi Kesehatan

1. Lambat dalam pekerjaan

Kerugian merokok yang pertama adalah lambat dalam bekerja.

Lambat yang saya maksud bukan berarti gerakan Anda jadi slow motion (kayak difilm)…

Maksudnya, lambat adalah menghambat.

Contohnya begini…

  • Pagi hari sebelum berangkat kerja, saya berkemas dengan sebatang rokok terselip dibibir saya.

Setelah selesai berkemas, saya tidak langsung berangkat melainkan menghabiskan dulu rokok yang sedang saya hisap.

  • Siang hari saat bekerja… saat saya menjadi seorang salesman, selesai transaksi saya berbincang dengan pemilik warung sambil asik merokok.

Karena merasa asik, maka perbincangan berlangsung lama. Hal itu jelas menghambat (memperlambat) pekerjaan saya. Seharusnya waktu itu saya sudah mengunjungi beberapa outlet berikutnya.

  • Sore hari sepulang kerja… Seorang yang bukan perokok akan segera mandi dan melakukan aktifitas lain atau sekedar bercengkrama dengan keluarga.

Lain halnya dengan seorang perokok yang akan nongkrong dulu di teras rumah (alasannya istirahat sejenak) sebelum mandi.

  • Pada saat saya buang air, saya jadi lebih betah nongkrong di toilet. Hal itu karena rasa “tanggung” utuk menghabiskan rokok yang sedang saya hisap.

11 Kiat Sukses Usaha Kecil ala Pak Suhara

2. Tidak sopan

Kerugian merokok yang kedua adalah… Om Bro jadi tidak sopan.

Disadari atau tidak, merokok pada saat bekerja adalah perbuatan yang tidak sopan. Termasuk jika Om Bro sedang berhadapan dengan klien bisnis.

3. Buang-buang waktu

Kemudian kerugian merokok yang ketiga adalah… waktu yang terbuang sia-sia.

Dulu, waktu saya kerja kantoran, saya punya rutinitas unik. Setiap jam 10 pagi dan jam 3 sore, saya pasti meninggalkan ruangan kerja saya.

Saya masuk ke toilet atau berpura-pura memantau proses produksi di lapangan, padahal tujuan sebenarnya adalah “merokok”.

Dan itu bukan cuma saya. Teman-teman staff lain juga melakukan hal yang sama seperti saya.

Begitu juga saat saya berprofesi sebagai waiter. Saya (dan teman-teman) punya jam khusus untuk melampiaskan hasrat merokok di toilet. Padahal seharusnya jam-jam itu bisa menjadi waktu yang produktif jika kita bukan seorang perokok.

4. Kurang memperhatikan keluarga (istri dan anak-anak)

Bagi yang tidak mengerti, mereka akan merokok seenaknya, disembarang tempat. Bahkan kerap kali saya lihat ada orang tua yang mengasuh anaknya sambil merokok. Padahal, perokok pasif beresiko mengalami gangguan kesehatan hingga 3 kali dibanding perokok aktif.

Sebaliknya, bagi orang yang faham, dia akan menjauhi orang-orang tercinta pada saat menghisap rokok. Otomatis hal itu jadi mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga.

5. Pola tidur tidak teratur (kurang istirahat)

Orang yang doyan merokok biasanya lebih betah begadang (termasuk saya). Bahkan kakek saya, dulu, bisa betah semalaman ngobrol sambil merokok pipa (padud).

Dari hasil observasi yang saya lakukan terhadap beberapa orang, saya melihat seorang yang tidak merokok cenderung lebih cukup istirahat. Pola tidurnya lebih teratur. Rata-rata dari mereka tidur sebelum jam 10 malam.

Pada tahun 2005, saya pernah mencoba berhenti merokok, tapi hanya kuat 2 bulan…

Dan selama 2 bulan itu, saya bisa tidur lebih awal dan lebih teratur karena kejenuhan yang timbul dimalam hari tanpa asap rokok.

Tapi sayang… Saya kembali pada kebiasaan lama karena stress saat mendapat masalah yang (bagi saya) cukup berat. Padahal, pola tidur yang teratur membuat badan terasa bugar pada saat bangun pagi. Hal itu tentu dapat secara langsung berpengaruh besar terhadap aktifitas sehari-hari, salah satunya adalah, bergerak lebih cepat dan efektif.

6. Pemborosan

Ini poin yang jelas sekali tapi sering di ingkari oleh seorang perokok. Intinya, tinggal hitung saja berapa batang Om Bro merokok setiap hari… Jadi berapa rupiah dalam satu bulan… Kemudian jadi berapa rupiah dalam satu tahun…

Kira-kira apa yang bisa Om Bro beli dengan jumlah uang tersebut??

Seorang perokok berat biasanya akan membandingkan dirinya sendiri dengan non-perokok, tapi yang cara hidupnya boros.

Maksudnya begini…

Saat ada orang lain yang mengingatkan dia tentang pemborosan, maka dia akan menjawab, “Aaahhh… Si Anu nggak ngerokok malah jajannya lebih boros dari saya…!!”

Nah, pertanyaannya, “anunya” siapa itu yang boros jajan??

Wkwkwkwk…

Lagi pula itu hanya dalih, hanya mencari pembenaran atas kesalahan dia sebagai perokok.

Memang terkadang hal itu benar, tapi lebih banyak salahnya.

Saya memperhatikan setidaknya 4 orang yang tidak merokok. Saya hitung dengan matematika sederhana, jumlah uang yang mereka belanjakan untuk jajan tidaklah lebih besar jadi jumlah uang yang saya belanjakan sebagai seorang perokok. (Bloglain).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *